Berhimpun dengan alam, adalah salah satu kegiatanku untuk memanfaatkan momen liburan semester di kampus yang cuma seminggu. Kali ini, spot alam yang kupilih adalah Gunung Arjuna terletak di sebelah utara Kota Malang-Jawa Timur. Perjalanan menuju puncak Arjuna ini kutempuh bersama teman-teman organisasi YEPE, Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam yang berada di Kota Malang.
Untuk mencapai puncak gunung yang memiliki tinggi 3337 mdpl ini, ada 6 pilihan jalur alternatif. Tapi kali ini kami memilih jalur Purwosari yang terkenal dengan jalur bersitus sejarah.
Berangkat dari desa Tambakwatu- Purwosari, kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dengan berjalan kaki melewati bebatuan dan membelah hutan pinus, kami melewati gapura situs sejarah Gua Ontoboego. Konon katanya dulu adalah tempat persembunyian pasukan Jepang.
Satu jam perjalanan dari gapura, kami mendapati anak tangga yang akhirnya menghantarkan kami ke pos Eyang Sekutrem. Nama wilayah ini memang Eyang Sekutrem, entah darimana nama ini diberikan. Disini, para pendaki biasa mengisi air untuk bekal ke pos selanjutnya.
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
Puas melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Vegetasi di sepanjang jalan mulai berubah, dari jenis pohon-pohon tinggi menjulang menjadi rimbunan tanaman se-paha. Tiga puluh menit perjalanan, kami memasuki kawasan hutan dan lagi-lagi menemukan situs sejarah yang cukup unik. Bangunan gubuk yang sepertinya dipakai untuk tempat ibadah dengan gapura bambu yang bertuliskan aksara jawa. Kami sempat merinding ketika berhenti di depan gapura untuk rehat sejenak.
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
Eyang Semar, menjadi pos selanjutnya. Disini terdapat rumah kayu tempat istirahat para pendaki maupun penduduk yang mencari kayu. Tidak lama kami rehat disini, perjalanan langsung tancap gas menuju pos terakhir untuk bermalam.
Makutarama. menjadi pos ketiga kami untuk bermalam. Lahan tempat kami mendirikan tenda bersebelahan dengan panggung batu yang ternyata tempat pemujaan masyarakat tertentu. Ini kami ketahui ketika pagi hari ada sekumpulan orang yang melakukan ritual menghadap ke patung besar yang terdapat di atas panggung
Pagi yang cerah, menyambut kami untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Puncak Arjuna memang belum tampak, tapi hiburan situs-situs sejarah yang kami temui memberikan wisata sejarah tersendiri disela-sela pendakian menuju puncak.
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
Dari Makutarama, kami harus mendaki jalur berbatu yang di sisi kanan-kirinya terdapat patung-patung batu kecil. Ujung dari jalan berbatu ini adalah Candi Sepilar, sepetak tanah yang terdapat batu-batu tersebar di dalamnya. Mungkin, dulu memang candi, namun sekarang batu-batu penyusunnya sudah banyak yang rapuh. Setelah satu jam, kami menemukan situs sejarah lainnya yaitu berupa batu bertuliskan Jawa Dwipa.
Untuk bermalam di hari kedua, kami memilih tempat yang dinamaiWatu Gede. Bukan apa-apa, tapi karena memang di tempat tersebut terdapat batu yang besar untuk dijadikan tempat perlindungan. Dari dataran Watu Gede ini, kami dapat menikmati indahnya ‘permadani’ awan dan puncak Gunung Semeru di seberang. Wow! Amazing!
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
Situs terakhir yang kami temui keesokan harinya adalah Puncak Arjuna sendiri dan Pasar Setan. Puncak gunung arjuna disebut Ogal Agil karena terdapat batu besar yang bisa bergoyang-goyang. Tapi, karena sifat vandalisme kelompok tertentu, pakdhe (sebutan untuk orang tua) kami di YEPE bercerita bahwa batu besar itu didorong menggelinding ke hutan di bawah puncak sampai terpecah-pecah. Sayang sekali, ya?
Setelah mencapai puncak, kami akan turun kemudian berjalan naik lagi melintasi medan berbatu. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan puncak Gunung Arjuna, namun batu-batu di lokasi ini tersusun lebih rapi dan membentuk alur jalan yang bisa dilewati. Di bawah lokasi inilah mitos tentang Pasar Dieng atau Pasar Setan itu berada. Jika malam tiba, seoah-olah terdengar gemuruh suara oreng seperti di pasar

0 komentar:
Posting Komentar