Saat itu aku masih duduk di kelas 2 smk di singosari,saat liburan aku bersama temanku berencana pergi ke puncak gunung arjuna,saat melewati perkebunan wonosari pemandangannya begitu indah,memandang luas kebun teh yang hijau.
sehari telah terlewati saya bermalam di padang rumput yang ketinggiannya 1500m diatas permukaan laut.Setelah hari mulai siang saya melanjutkan perjalanan, sesampai di bibir hutan lali jiwo aku merasakan pemandangan yang tidak biasa aku lihat.tampak pohon-pohon yang kokoh tapi tampak suram karena tidak ada satu pun dahan daun yang tumbuh, kulit kayu yang tampak terselimuti lumut-lumut hijau.
Aku coba memberanikan diri melewati hutan tersebut,aku dan teman-teman memakai seutas tali untuk di ikatkan di tubuh kami,karena menurut cerita-cerita orang banyak orang hilang di hutan tersebut.setelah kami berjalan hampir setengah kilo saya sudah sebanyak 3 kali jatuh,bayangkan saja selama perjalan saya belum sekalipun jatuh.dengan membawa beban tas yang berat, badanku rasanya remuk sekali saat melintasi kawasan hutan itu,sungguh pengalaman yang mengerikan...banyak hal-hal aneh yang kami lintasi,seperti ada yang mengawasi perjalanan kami.
tapi setelah melewati tantangan tersebut akhirnya kami sampai di puncak arjuna,begitu indah dengan bebatuan yang besar-besar di atas puncak arjuna.sungguh pengalaman yang indah.
Senin, 21 November 2011
Wisata Budaya Menuju Puncak Gunung Arjuna
Berhimpun dengan alam, adalah salah satu kegiatanku untuk memanfaatkan momen liburan semester di kampus yang cuma seminggu. Kali ini, spot alam yang kupilih adalah Gunung Arjuna terletak di sebelah utara Kota Malang-Jawa Timur. Perjalanan menuju puncak Arjuna ini kutempuh bersama teman-teman organisasi YEPE, Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam yang berada di Kota Malang.
Untuk mencapai puncak gunung yang memiliki tinggi 3337 mdpl ini, ada 6 pilihan jalur alternatif. Tapi kali ini kami memilih jalur Purwosari yang terkenal dengan jalur bersitus sejarah.
Berangkat dari desa Tambakwatu- Purwosari, kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dengan berjalan kaki melewati bebatuan dan membelah hutan pinus, kami melewati gapura situs sejarah Gua Ontoboego. Konon katanya dulu adalah tempat persembunyian pasukan Jepang.
Satu jam perjalanan dari gapura, kami mendapati anak tangga yang akhirnya menghantarkan kami ke pos Eyang Sekutrem. Nama wilayah ini memang Eyang Sekutrem, entah darimana nama ini diberikan. Disini, para pendaki biasa mengisi air untuk bekal ke pos selanjutnya.
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
Puas melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Vegetasi di sepanjang jalan mulai berubah, dari jenis pohon-pohon tinggi menjulang menjadi rimbunan tanaman se-paha. Tiga puluh menit perjalanan, kami memasuki kawasan hutan dan lagi-lagi menemukan situs sejarah yang cukup unik. Bangunan gubuk yang sepertinya dipakai untuk tempat ibadah dengan gapura bambu yang bertuliskan aksara jawa. Kami sempat merinding ketika berhenti di depan gapura untuk rehat sejenak.
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
Eyang Semar, menjadi pos selanjutnya. Disini terdapat rumah kayu tempat istirahat para pendaki maupun penduduk yang mencari kayu. Tidak lama kami rehat disini, perjalanan langsung tancap gas menuju pos terakhir untuk bermalam.
Makutarama. menjadi pos ketiga kami untuk bermalam. Lahan tempat kami mendirikan tenda bersebelahan dengan panggung batu yang ternyata tempat pemujaan masyarakat tertentu. Ini kami ketahui ketika pagi hari ada sekumpulan orang yang melakukan ritual menghadap ke patung besar yang terdapat di atas panggung
Pagi yang cerah, menyambut kami untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Puncak Arjuna memang belum tampak, tapi hiburan situs-situs sejarah yang kami temui memberikan wisata sejarah tersendiri disela-sela pendakian menuju puncak.
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
Dari Makutarama, kami harus mendaki jalur berbatu yang di sisi kanan-kirinya terdapat patung-patung batu kecil. Ujung dari jalan berbatu ini adalah Candi Sepilar, sepetak tanah yang terdapat batu-batu tersebar di dalamnya. Mungkin, dulu memang candi, namun sekarang batu-batu penyusunnya sudah banyak yang rapuh. Setelah satu jam, kami menemukan situs sejarah lainnya yaitu berupa batu bertuliskan Jawa Dwipa.
Untuk bermalam di hari kedua, kami memilih tempat yang dinamaiWatu Gede. Bukan apa-apa, tapi karena memang di tempat tersebut terdapat batu yang besar untuk dijadikan tempat perlindungan. Dari dataran Watu Gede ini, kami dapat menikmati indahnya ‘permadani’ awan dan puncak Gunung Semeru di seberang. Wow! Amazing!
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
Situs terakhir yang kami temui keesokan harinya adalah Puncak Arjuna sendiri dan Pasar Setan. Puncak gunung arjuna disebut Ogal Agil karena terdapat batu besar yang bisa bergoyang-goyang. Tapi, karena sifat vandalisme kelompok tertentu, pakdhe (sebutan untuk orang tua) kami di YEPE bercerita bahwa batu besar itu didorong menggelinding ke hutan di bawah puncak sampai terpecah-pecah. Sayang sekali, ya?
Setelah mencapai puncak, kami akan turun kemudian berjalan naik lagi melintasi medan berbatu. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan puncak Gunung Arjuna, namun batu-batu di lokasi ini tersusun lebih rapi dan membentuk alur jalan yang bisa dilewati. Di bawah lokasi inilah mitos tentang Pasar Dieng atau Pasar Setan itu berada. Jika malam tiba, seoah-olah terdengar gemuruh suara oreng seperti di pasar
Untuk mencapai puncak gunung yang memiliki tinggi 3337 mdpl ini, ada 6 pilihan jalur alternatif. Tapi kali ini kami memilih jalur Purwosari yang terkenal dengan jalur bersitus sejarah.
Berangkat dari desa Tambakwatu- Purwosari, kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dengan berjalan kaki melewati bebatuan dan membelah hutan pinus, kami melewati gapura situs sejarah Gua Ontoboego. Konon katanya dulu adalah tempat persembunyian pasukan Jepang.
Satu jam perjalanan dari gapura, kami mendapati anak tangga yang akhirnya menghantarkan kami ke pos Eyang Sekutrem. Nama wilayah ini memang Eyang Sekutrem, entah darimana nama ini diberikan. Disini, para pendaki biasa mengisi air untuk bekal ke pos selanjutnya.
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
Puas melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Vegetasi di sepanjang jalan mulai berubah, dari jenis pohon-pohon tinggi menjulang menjadi rimbunan tanaman se-paha. Tiga puluh menit perjalanan, kami memasuki kawasan hutan dan lagi-lagi menemukan situs sejarah yang cukup unik. Bangunan gubuk yang sepertinya dipakai untuk tempat ibadah dengan gapura bambu yang bertuliskan aksara jawa. Kami sempat merinding ketika berhenti di depan gapura untuk rehat sejenak.
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
Eyang Semar, menjadi pos selanjutnya. Disini terdapat rumah kayu tempat istirahat para pendaki maupun penduduk yang mencari kayu. Tidak lama kami rehat disini, perjalanan langsung tancap gas menuju pos terakhir untuk bermalam.
Makutarama. menjadi pos ketiga kami untuk bermalam. Lahan tempat kami mendirikan tenda bersebelahan dengan panggung batu yang ternyata tempat pemujaan masyarakat tertentu. Ini kami ketahui ketika pagi hari ada sekumpulan orang yang melakukan ritual menghadap ke patung besar yang terdapat di atas panggung
Pagi yang cerah, menyambut kami untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Puncak Arjuna memang belum tampak, tapi hiburan situs-situs sejarah yang kami temui memberikan wisata sejarah tersendiri disela-sela pendakian menuju puncak.
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
Dari Makutarama, kami harus mendaki jalur berbatu yang di sisi kanan-kirinya terdapat patung-patung batu kecil. Ujung dari jalan berbatu ini adalah Candi Sepilar, sepetak tanah yang terdapat batu-batu tersebar di dalamnya. Mungkin, dulu memang candi, namun sekarang batu-batu penyusunnya sudah banyak yang rapuh. Setelah satu jam, kami menemukan situs sejarah lainnya yaitu berupa batu bertuliskan Jawa Dwipa.
Untuk bermalam di hari kedua, kami memilih tempat yang dinamaiWatu Gede. Bukan apa-apa, tapi karena memang di tempat tersebut terdapat batu yang besar untuk dijadikan tempat perlindungan. Dari dataran Watu Gede ini, kami dapat menikmati indahnya ‘permadani’ awan dan puncak Gunung Semeru di seberang. Wow! Amazing!
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
Situs terakhir yang kami temui keesokan harinya adalah Puncak Arjuna sendiri dan Pasar Setan. Puncak gunung arjuna disebut Ogal Agil karena terdapat batu besar yang bisa bergoyang-goyang. Tapi, karena sifat vandalisme kelompok tertentu, pakdhe (sebutan untuk orang tua) kami di YEPE bercerita bahwa batu besar itu didorong menggelinding ke hutan di bawah puncak sampai terpecah-pecah. Sayang sekali, ya?
Setelah mencapai puncak, kami akan turun kemudian berjalan naik lagi melintasi medan berbatu. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan puncak Gunung Arjuna, namun batu-batu di lokasi ini tersusun lebih rapi dan membentuk alur jalan yang bisa dilewati. Di bawah lokasi inilah mitos tentang Pasar Dieng atau Pasar Setan itu berada. Jika malam tiba, seoah-olah terdengar gemuruh suara oreng seperti di pasar
Puncak Gunung Arjuna Terbakar
Pasuruan - Setelah Gunung Panderman, kini kawasan puncak Gunung Arjuna terbakar sejak 3 hari lalu. Hingga saat ini api belum padam dan terus menjalar.
Sumber api diduga berasal dari balik Gunung Kembar yang masuk wilayah Mojokerto. Dari Gunung Kembar api menjalar ke Lembah Kijang dan Blok Bulak yang ada di puncak.
Dari informasi yang dihimpun, api sudah menghanguskan sedikitnya 20 ha lahan di puncak Arjuna.
"Sampai saat ini api belum bisa dipadamkan. Api sudah membakar sedikitnya 20," kata Jhody, seketaris Kelompok Tani Tahura (KTT) saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (14/10/2011) malam.
Menurut Jhody, saat ini lebih dari 40 petugas dari Tahura dan Kelompok Tani Tahura (KTT) sedang berjibaku melokalisir api.
"Lebih dari 40 petugas dikerahkan untuk melokalisir api," kata Jhody.
Di puncak yang terbakar terdapat pohon-pohon cemara besar yang usianya sudah ratusan tahun. Semak-semak setinggi 3 meter yang dalam keadaan kering membuat api semakin mudah terbakar.
Sumber api diduga berasal dari balik Gunung Kembar yang masuk wilayah Mojokerto. Dari Gunung Kembar api menjalar ke Lembah Kijang dan Blok Bulak yang ada di puncak.
Dari informasi yang dihimpun, api sudah menghanguskan sedikitnya 20 ha lahan di puncak Arjuna.
"Sampai saat ini api belum bisa dipadamkan. Api sudah membakar sedikitnya 20," kata Jhody, seketaris Kelompok Tani Tahura (KTT) saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (14/10/2011) malam.
Menurut Jhody, saat ini lebih dari 40 petugas dari Tahura dan Kelompok Tani Tahura (KTT) sedang berjibaku melokalisir api.
"Lebih dari 40 petugas dikerahkan untuk melokalisir api," kata Jhody.
Di puncak yang terbakar terdapat pohon-pohon cemara besar yang usianya sudah ratusan tahun. Semak-semak setinggi 3 meter yang dalam keadaan kering membuat api semakin mudah terbakar.
Jalur Pendakian Gunung Semeru
Gunung Semeru adalah gunung suci kediaman para Dewa, merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 M dpl (puncak Mahameru). Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru.
Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.
Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.
Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.
JALUR WATU REJENG
Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.
JALUR GUNUNG AYEK-AYEK
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.
Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.
Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.
JALUR WATU REJENG
Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.
JALUR GUNUNG AYEK-AYEK
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Sejarah Dan Legenda Gunung Arjuna
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl.Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.
Gunung Arjun bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuna terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuna dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuna mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pada jaman dulunya bahkan samapi sekarang Masyarakat Jawa percaya bahwa kisah dalam wayang adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa. Para dewa-dewa pun diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut, namun menurut legenda, dahulu tinggi gunung ini hampir menyentuh langit. Karena perbuatan Arjuna maka gunung ini tingginya menjadi berkurang. Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha.
Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan - bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.
Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.
Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. "Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger" sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.
Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.
Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada "Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu". Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.
Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.
Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.
Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.
Gunung Arjuna dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
Gunung Arjun bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuna terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuna dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuna mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pada jaman dulunya bahkan samapi sekarang Masyarakat Jawa percaya bahwa kisah dalam wayang adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa. Para dewa-dewa pun diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut, namun menurut legenda, dahulu tinggi gunung ini hampir menyentuh langit. Karena perbuatan Arjuna maka gunung ini tingginya menjadi berkurang. Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha.
Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan - bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.
Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.
Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. "Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger" sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.
Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.
Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada "Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu". Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.
Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.
Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.
Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.
Gunung Arjuna dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
Puncak Pertamaku, Gunung Arjuna
Januari 2007 adalah pertama kalinya aku mendapati puncak pertamaku di ketinggian 3.339 mdpl, puncak gunung Arjuna. Gunung Arjuna adalah gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah gunung Semeru. Perasaan senang sekaligus takut menghinggapi jiwaku kala itu.
Namun rasa takut sekejap hilang karena aku tidak sendiri. Aku mendaki bersama "dulur" atau saudara dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghinggapi jiwa maupun raga. Memang benar kata orang-orang yang telah berpengalaman, dibutuhkan fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat mendaki sebuah gunung. Kami saling menyemangati.
Memasak di Kop-kopan
Perjalanan dimulai dari sekretariat PLH SIKLUS ITS di Sukolilo Surabaya pada tanggal 01 Januari 2007. Sesampainya di Tretes, Malang, kita menitipkan sepeda motor di pos pendakian dan segera mendaki malam itu juga. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat Pos dan pipa air minum.
Di Pos tersebut kita dapat membeli makanan seperti mie dan teh hangat. Sekitar pukul 22.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita juga dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat, kopi, dan mie. Disini juga terdapat WC yang masih sangat tradisional, hanya berupa ruangan kayu bertirai dan batu berlubang.
Perjalanan melewati makadam (jalan berbatu)
Istirahat sejenak dalam perjalanan
Esok harinya kita meneruskan perjalanan menuju pondokan. Terdapat beberapa sumber air selama jalur perjalanan ini, namun untuk berjaga-jaga kita tetap berhemat. Selama perjalanan di bawah terik matahari, berkali-kali Aku merasa dehidrasi dan kehabisan tenaga. Bahkan beberapa kali langkahku jauh tertinggal dari kelompokku.
Sempat terlintas dibenakku untuk tidak melanjutkan perjalanan. Aku juga sempat membuat sumpah serapah dalam hati bahwa ini pendakian terakhirku. Untung ada seniorku yang terus menyemangati dan menunggu langkahku dengan sabar. Alhasil, sampai sekarang justru aku ketagihan dengan kegiatan pendakian.
Gubuk penambang belerang
Sore harinya kita sampai di Pondokan dan segera memasang tenda serta memasak. Udara teramat dingin, cukup membuat kami menggigil. Di Pondokan ini banyak gubuk kecil yang merupakan tempat tinggal sementara para penambang belerang.
Disini kita patut berhati-hati dalam menjaga tenda kita karena banyak pencuri yang biasanya suka mencuri bahan makanan kita. Di Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang. Di Daerah ini juga terdapat sumber air serta semacam tempat khusus untuk buang air.
Lembah Kidang
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno. Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak.
Setelah melewati Lembah Kidang, kita akan melewati daerah yang mirip dengan Lembah Kidang namun terdapat banyak bebatuan disebut Pasar Setan. Sejumlah pendaki mengaku pernah menjumpai semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah di tempat ini. Namun, konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka.
Foto bersama anggota GMC UI
Dalam perjalanan menuju puncak Arjuno, kita bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Para bule tersebut kebanyakan diantar oleh porter dan guide dengan rambutnya yang gimbal dan gondrong. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa jurusan Geografi UI yang tergabung dalam Geographical Mountaneering Club (GMC) UI. mereka sempat membagi minuman kepada kami disaat persediaan minum kami mulai menipis. Terimakasih Bang :).
3.339 mdpl
Sampai juga kami di puncak. Tidak ada tanaman apapun di puncak ini, yang ada hanya bebatuan yang cukup besar. Puncak Arjuno merupakan puncak triangulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan puncak sebenarnya. Saat berada di puncak kita harus berhati-hati karena tepi bebatuan merupakan tebing. Konon katanya pernah ada pendaki yang meninggal karena terjatuh di tepi bebatuan tersebut.
Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.
Tempat di Indonesia yang paling keren dan wajib di kunjungi untuk Adventure menurut penulis. :
Pulau Irian Jaya (Papua), alasannya.Saya ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari kehidupan masyarakat di Papua mulai dari kehidupan kota sampai suku-suku primitif di pedalaman. Bisa berkomunikasi dengan suku primitif disana tentu sangat menyenangkan, Saya ingin melihat sisi lain kehidupan dari mereka. Saya ingin mempelajari kebudayaan hingga adat istiadat yang ada disana. Saya ingin melihat secara nyata kondisi lingkungan di Papua mulai dari hutan rimbanya, pantai, lautan, hingga gunung yang menjulang. Singkat kata, Saya ingin keliling Papua untuk mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan alam Indonesiaku tercinta.
Namun rasa takut sekejap hilang karena aku tidak sendiri. Aku mendaki bersama "dulur" atau saudara dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghinggapi jiwa maupun raga. Memang benar kata orang-orang yang telah berpengalaman, dibutuhkan fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat mendaki sebuah gunung. Kami saling menyemangati.
Memasak di Kop-kopan
Perjalanan dimulai dari sekretariat PLH SIKLUS ITS di Sukolilo Surabaya pada tanggal 01 Januari 2007. Sesampainya di Tretes, Malang, kita menitipkan sepeda motor di pos pendakian dan segera mendaki malam itu juga. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat Pos dan pipa air minum.
Di Pos tersebut kita dapat membeli makanan seperti mie dan teh hangat. Sekitar pukul 22.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita juga dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat, kopi, dan mie. Disini juga terdapat WC yang masih sangat tradisional, hanya berupa ruangan kayu bertirai dan batu berlubang.
Perjalanan melewati makadam (jalan berbatu)
Istirahat sejenak dalam perjalanan
Esok harinya kita meneruskan perjalanan menuju pondokan. Terdapat beberapa sumber air selama jalur perjalanan ini, namun untuk berjaga-jaga kita tetap berhemat. Selama perjalanan di bawah terik matahari, berkali-kali Aku merasa dehidrasi dan kehabisan tenaga. Bahkan beberapa kali langkahku jauh tertinggal dari kelompokku.
Sempat terlintas dibenakku untuk tidak melanjutkan perjalanan. Aku juga sempat membuat sumpah serapah dalam hati bahwa ini pendakian terakhirku. Untung ada seniorku yang terus menyemangati dan menunggu langkahku dengan sabar. Alhasil, sampai sekarang justru aku ketagihan dengan kegiatan pendakian.
Gubuk penambang belerang
Sore harinya kita sampai di Pondokan dan segera memasang tenda serta memasak. Udara teramat dingin, cukup membuat kami menggigil. Di Pondokan ini banyak gubuk kecil yang merupakan tempat tinggal sementara para penambang belerang.
Disini kita patut berhati-hati dalam menjaga tenda kita karena banyak pencuri yang biasanya suka mencuri bahan makanan kita. Di Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang. Di Daerah ini juga terdapat sumber air serta semacam tempat khusus untuk buang air.
Lembah Kidang
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno. Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak.
Setelah melewati Lembah Kidang, kita akan melewati daerah yang mirip dengan Lembah Kidang namun terdapat banyak bebatuan disebut Pasar Setan. Sejumlah pendaki mengaku pernah menjumpai semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah di tempat ini. Namun, konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka.
Foto bersama anggota GMC UI
Dalam perjalanan menuju puncak Arjuno, kita bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Para bule tersebut kebanyakan diantar oleh porter dan guide dengan rambutnya yang gimbal dan gondrong. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa jurusan Geografi UI yang tergabung dalam Geographical Mountaneering Club (GMC) UI. mereka sempat membagi minuman kepada kami disaat persediaan minum kami mulai menipis. Terimakasih Bang :).
3.339 mdpl
Sampai juga kami di puncak. Tidak ada tanaman apapun di puncak ini, yang ada hanya bebatuan yang cukup besar. Puncak Arjuno merupakan puncak triangulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan puncak sebenarnya. Saat berada di puncak kita harus berhati-hati karena tepi bebatuan merupakan tebing. Konon katanya pernah ada pendaki yang meninggal karena terjatuh di tepi bebatuan tersebut.
Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.
Tempat di Indonesia yang paling keren dan wajib di kunjungi untuk Adventure menurut penulis. :
Pulau Irian Jaya (Papua), alasannya.Saya ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari kehidupan masyarakat di Papua mulai dari kehidupan kota sampai suku-suku primitif di pedalaman. Bisa berkomunikasi dengan suku primitif disana tentu sangat menyenangkan, Saya ingin melihat sisi lain kehidupan dari mereka. Saya ingin mempelajari kebudayaan hingga adat istiadat yang ada disana. Saya ingin melihat secara nyata kondisi lingkungan di Papua mulai dari hutan rimbanya, pantai, lautan, hingga gunung yang menjulang. Singkat kata, Saya ingin keliling Papua untuk mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan alam Indonesiaku tercinta.
Merajut Angan Gunung Arjuna
Janet Cochrane, Dosen Ecotourism dari Leeds Metropolitan University UK, sempat terhenyak saat berkunjung ke Kaliandra, yang berada di Dusun Gamoh, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dia terpesona dengan keindahan panorama alam di Kawasan Gunung Arjuna. Menurutnya keindahan itu berpadu eksotis dengan potensi alam dan keragaman budaya masyarakatnya.
Di beberapa kawasan lereng dapat ditemui keberadaan peninggalan bersejarah dan sekitar 52 situs purbakala terserak di lereng Arjuna, pemandangan ini dapat kita temui sepanjang rute pendakian. Misal saja, saat kita menempuh rute pendakian dari wilayah timur yang dapat dilalui di Dusun Tambak Watu, Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dari situ kita akan melangkah naik hingga sampai di Goa Onto Boego. Sebuah tempat yang juga dipercaya oleh warga setempat memiliki tuah atau kekuatan supranatural, dapat tembus hingga ke Laut Selatan.
Kemudian melanjutkan perjalanan, kendati rasa lelah mulai menyikap, tak perlu khawatir karena perasaan ini dapat tergantikan dengan pemandangan alam yang begitu memukau didukung hawa segar menyelinap ke tubuh.
Terus naik, sampailah di Komplek Tampuono. Disinilah Anda dapat sejenak melepas lelah, karena terdapat pendopo dan beberapa gubuk warga yang menjual aneka makanan serta minuman. Selain itu di Tampuono inilah juga kerap dibuat para lelaku yang singgah di beberapa petilasan dan makam sesepuh desa. Seperti Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogo Gini, Sendang Dewi Kunti sebagai tempat air, serta beberapa titik sakral lainnya.
Tak berhenti di Onto Boego dan Tampuono saja, peninggalan sejarah yang ada di Gunung Arjuna. Namun, masih banyak lainnya saat kita melanjutkan langkah terus naik menerabas alam menuju puncak gunung. Yakni setelah itu, kita temui keberadaan petilasan, makam, dan puluhan situs berserak di Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Bahkan jika kita mau menjelajahi seluruh kawasan yang ada di sana, dapat menemui banyak sisa peninggalan budaya, goa dan air terjun yang masih alami.
Bukti lain jika potensi budaya di sini begitu besar, dapat dilihat pula dari buah karya budaya yang terlahir dari masyarakatnya. Penduduk di Kaki Arjuna, memiliki aneka kesenian seperti Tari Ujung, Ludruk, Sendratari, Wayang, Karawitan, Ancakan desa, serta jamasan sebagai momen tahunan yang menjadi wujud untaian syukur warga pada leluhur dan Sang Kuasa. Beragam budaya yang bersanding erat dengan keramahan warga desa penunjang kawasan lereng Arjuna, semakin melengkapi potensi kawasan ini sebagai tempat tujuan wisata tahan lama.
Dengan makin berkembangnya keragaman budaya yang ada di kawasan Arjuna, seperti halnya yang telah digiatkan oleh masyarakat di Desa Tambaksari. Warga setempat berharap banyak pihak yang turut serta membantu pelestarian budaya dan potensi alam yang ada. Seperti yang diutarakan Rr. Justina Jetty M Apriyatni, salah seorang penggiat budaya di Desa Tambaksari, berharap agar pemerintah, khususnya dinas pariwisata dan kebudayaan terkait turut serta mengembangkan segala potensi di sini, bentuknya bisa berupa dukungan, promosi, atau bentuk lainnya. “Sangat kami sayangkan, jika pemerintah kurang membantu, karena kami akan terus bergiat melestarikan alam dan budaya di sini,” imbuh pemilik galeri kesenian La Bagoes ini.
Kebun Apel
Selain berjuta pesona yang terdapat dari akses pendakian Gunung Arjuna dari sisi bagian timur, atau dari Kaliandra di Desa Dayurejo, Dusun Tambak Watu (Desa Tambaksari), dan sekitarnya. Pesona alam yang dapat kita nikmati, yakni dari sisi bagian selatan kawasan Gunung Arjuna. Tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Desa Tulungrejo merupakan desa yang sangat subur dengan corak masyarakatnya yang majemuk, dan sebagian besar bermata pencaharian tani sayur mayur dan buah apel. Selain usaha dari tani juga usaha sapi perah untuk produksi susu, gotong royong merupakan sifat masyarakatnya. Ditunjang oleh udara yang dingin dan panorama alam yang indah, terletak di dataran tinggi.
Potensi di desa ini yang paling menonjol adalah perkebunan apel. Kebanyakan petani di Tulungrejo menggelar rekreasi petik apel dengan swadaya dan kreatifitas sendiri. Dan, di desa ini telah terbentuk beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Salah satunya adalah Kelompok Tani Makmur Abadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji. Mulai dari promosi, memandu wisatawan, hingga menyediakan transportasi, mereka kelola secara mandiri.
Menurut penjelasan Sayekti Heri Cahyono, selaku unit wisata petik apel Makmur Abadi, perkebunan apel di Desa Tulungrejo berada di ketinggian 1.500 hingga 1.600 meter dari permukaan laut (mdpl), memiliki lahan seluas 80 hektar. “Lahan seluas itu yang dijadikan tempat wisata petik apel berada di Dusun Gondang, Gerdu, dan Juru,” ujar pria berusia 34 tahun itu.
Apel di perkebunan yang ada di Desa Tulungrejo memiliki empat varietas.
Yakni Manalagi, Romebeauty, Anna dan Wanglin. Semuanya memiliki ciri khusus. Apel romebeauty berwarna hijau dengan semburat merah, rasanya memang lebih masam dibandingkan dengan apel jenis yang lainnya. Apel manalagi berwarna hijau kekuningan dan rasanya manis. Apel Anna berwarna kuning dengan semburat merah, rasanya segar karena kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan Wanglin kulitnya rata berwarna merah.
Karena keindahan dan konsep wisata yang ditawarkan tak salah bila beberapa tahun setelah dibuka, dengan serba keterbatasan perkebunan apel di Tulungrejo mampu menarik perhatian wisatawan datang ke sini.
“Karena itu pula, Kota Batu dikenal dengan sebutan Kota Apel. Wisatawan dapat menikmati tawaran konsep wisata petik apel, lengkap dengan hawa segar karena daerah kita berada di tiga pegunungan. Yakni Gunung Panderman, Gunung Banyak dan Gunung Arjuno,” jelas Wiwid Hariyanto, salah seorang pemandu dari Pusat Informasi Pariwisata Kota Batu.
Apel hasil kebun juga untuk dipasarkan ke daerah-daerah. Pemasarannya hanya sebatas pangsa pasar lokal, baik di Jawa maupun Bali. Selain dijual dalam bentuk buah juga diolah kembali dalam bentuk berbagai rupa. Seperti minuman sari apel, keripik, sambal, dan masih banyak lainnya.
Responsible Tourism
Gunung Arjuna sendiri memiliki ketinggian 3.339 mdpl dengan luas hutan 78 ribu hektar. Terdiri 25 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, dan 53 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Perhutani. Melihat hasil konservasi dan peninggalan situs purbakala yang ada, Kaliandra bersama masyarakat setempat bergiat mengembangkannya sebagai tempat tujuan wisata yang bertanggung jawab (Responsible Tourism).
“Harapannya dari gagasan itu, dapat dikembalikan menjadi basis tumpuan perekonomian masyarakat. Karenanya masyarakat yang terlibat dituntut pro aktif dalam menyambut setiap tamu yang datang. Mulai dari penyediaan home stay, suguhan budaya, hingga pendampingan dalam pendakian,” jelas Sapto Siswoyo, Asisten Pengembangan Masyarakat di Kaliandra.
Untuk mewujudkan mimpi itu, maka terbentuklah MATA (Mount Arjuna Tourism Area). Dalam waktu dekat MATA akan hadir, dengan beberapa tawaran tentang info produk wisata dan kegiatan konservasi yang dilakukan oleh warga lokal, untuk mendorong pengembangan wisata tahan lama di kawasan Arjuna. Bentuknya berupa tracking budaya, hiking puncak Arjuna, paket bersepeda, pengamatan satwa, kegiatan wisata bersama warga sekitar, dan masih banyak lainnya yang ditawarkan.
Dalam perjalanannya MATA berharap adanya beberapa pihak yang terketuk untuk membantu keberlangsungan gagasan ini. Pada tahap awal, Kaliandra menggandeng IUCN (International Union for Conservation of Nature) The Netherlands untuk mengembangkan wisata yang bertanggung jawab di kawasan Arjuna. Dukungan dari pemerintah terkait baik dari kabupaten, kota, maupun propinsi juga masih sangat diharapkan. Misalnya, dengan menerbitkan peraturan daerah tentang pariwisata yang berpihak pada masyarakat setempat. Serta pemerintah diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan baik, karena kawasan Arjuna secara administratif, wilayahnya juga melintasi tiga kabupaten (Pasuruan, Malang, Mojokerto) dan satu kota administratif (Batu).
“Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memfasilitasi pembentukan lembaga pengelola kawasan Destination Management Organisation (DMO),” imbuh pria yang akrab disapa Siswoyo ini. DMO ini terdiri dari empat stake holder, meliputi masyarakat, pemerintah, pihak swasta, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Yang nantinya lembaga ini dapat secara terpadu untuk memastikan kontribusi dari hasil wisata bagi konservasi kawasan Arjuna, serta peningkatan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat lokal.
Di beberapa kawasan lereng dapat ditemui keberadaan peninggalan bersejarah dan sekitar 52 situs purbakala terserak di lereng Arjuna, pemandangan ini dapat kita temui sepanjang rute pendakian. Misal saja, saat kita menempuh rute pendakian dari wilayah timur yang dapat dilalui di Dusun Tambak Watu, Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dari situ kita akan melangkah naik hingga sampai di Goa Onto Boego. Sebuah tempat yang juga dipercaya oleh warga setempat memiliki tuah atau kekuatan supranatural, dapat tembus hingga ke Laut Selatan.
Kemudian melanjutkan perjalanan, kendati rasa lelah mulai menyikap, tak perlu khawatir karena perasaan ini dapat tergantikan dengan pemandangan alam yang begitu memukau didukung hawa segar menyelinap ke tubuh.
Terus naik, sampailah di Komplek Tampuono. Disinilah Anda dapat sejenak melepas lelah, karena terdapat pendopo dan beberapa gubuk warga yang menjual aneka makanan serta minuman. Selain itu di Tampuono inilah juga kerap dibuat para lelaku yang singgah di beberapa petilasan dan makam sesepuh desa. Seperti Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogo Gini, Sendang Dewi Kunti sebagai tempat air, serta beberapa titik sakral lainnya.
Tak berhenti di Onto Boego dan Tampuono saja, peninggalan sejarah yang ada di Gunung Arjuna. Namun, masih banyak lainnya saat kita melanjutkan langkah terus naik menerabas alam menuju puncak gunung. Yakni setelah itu, kita temui keberadaan petilasan, makam, dan puluhan situs berserak di Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Bahkan jika kita mau menjelajahi seluruh kawasan yang ada di sana, dapat menemui banyak sisa peninggalan budaya, goa dan air terjun yang masih alami.
Bukti lain jika potensi budaya di sini begitu besar, dapat dilihat pula dari buah karya budaya yang terlahir dari masyarakatnya. Penduduk di Kaki Arjuna, memiliki aneka kesenian seperti Tari Ujung, Ludruk, Sendratari, Wayang, Karawitan, Ancakan desa, serta jamasan sebagai momen tahunan yang menjadi wujud untaian syukur warga pada leluhur dan Sang Kuasa. Beragam budaya yang bersanding erat dengan keramahan warga desa penunjang kawasan lereng Arjuna, semakin melengkapi potensi kawasan ini sebagai tempat tujuan wisata tahan lama.
Dengan makin berkembangnya keragaman budaya yang ada di kawasan Arjuna, seperti halnya yang telah digiatkan oleh masyarakat di Desa Tambaksari. Warga setempat berharap banyak pihak yang turut serta membantu pelestarian budaya dan potensi alam yang ada. Seperti yang diutarakan Rr. Justina Jetty M Apriyatni, salah seorang penggiat budaya di Desa Tambaksari, berharap agar pemerintah, khususnya dinas pariwisata dan kebudayaan terkait turut serta mengembangkan segala potensi di sini, bentuknya bisa berupa dukungan, promosi, atau bentuk lainnya. “Sangat kami sayangkan, jika pemerintah kurang membantu, karena kami akan terus bergiat melestarikan alam dan budaya di sini,” imbuh pemilik galeri kesenian La Bagoes ini.
Kebun Apel
Selain berjuta pesona yang terdapat dari akses pendakian Gunung Arjuna dari sisi bagian timur, atau dari Kaliandra di Desa Dayurejo, Dusun Tambak Watu (Desa Tambaksari), dan sekitarnya. Pesona alam yang dapat kita nikmati, yakni dari sisi bagian selatan kawasan Gunung Arjuna. Tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Desa Tulungrejo merupakan desa yang sangat subur dengan corak masyarakatnya yang majemuk, dan sebagian besar bermata pencaharian tani sayur mayur dan buah apel. Selain usaha dari tani juga usaha sapi perah untuk produksi susu, gotong royong merupakan sifat masyarakatnya. Ditunjang oleh udara yang dingin dan panorama alam yang indah, terletak di dataran tinggi.
Potensi di desa ini yang paling menonjol adalah perkebunan apel. Kebanyakan petani di Tulungrejo menggelar rekreasi petik apel dengan swadaya dan kreatifitas sendiri. Dan, di desa ini telah terbentuk beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Salah satunya adalah Kelompok Tani Makmur Abadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji. Mulai dari promosi, memandu wisatawan, hingga menyediakan transportasi, mereka kelola secara mandiri.
Menurut penjelasan Sayekti Heri Cahyono, selaku unit wisata petik apel Makmur Abadi, perkebunan apel di Desa Tulungrejo berada di ketinggian 1.500 hingga 1.600 meter dari permukaan laut (mdpl), memiliki lahan seluas 80 hektar. “Lahan seluas itu yang dijadikan tempat wisata petik apel berada di Dusun Gondang, Gerdu, dan Juru,” ujar pria berusia 34 tahun itu.
Apel di perkebunan yang ada di Desa Tulungrejo memiliki empat varietas.
Yakni Manalagi, Romebeauty, Anna dan Wanglin. Semuanya memiliki ciri khusus. Apel romebeauty berwarna hijau dengan semburat merah, rasanya memang lebih masam dibandingkan dengan apel jenis yang lainnya. Apel manalagi berwarna hijau kekuningan dan rasanya manis. Apel Anna berwarna kuning dengan semburat merah, rasanya segar karena kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan Wanglin kulitnya rata berwarna merah.
Karena keindahan dan konsep wisata yang ditawarkan tak salah bila beberapa tahun setelah dibuka, dengan serba keterbatasan perkebunan apel di Tulungrejo mampu menarik perhatian wisatawan datang ke sini.
“Karena itu pula, Kota Batu dikenal dengan sebutan Kota Apel. Wisatawan dapat menikmati tawaran konsep wisata petik apel, lengkap dengan hawa segar karena daerah kita berada di tiga pegunungan. Yakni Gunung Panderman, Gunung Banyak dan Gunung Arjuno,” jelas Wiwid Hariyanto, salah seorang pemandu dari Pusat Informasi Pariwisata Kota Batu.
Apel hasil kebun juga untuk dipasarkan ke daerah-daerah. Pemasarannya hanya sebatas pangsa pasar lokal, baik di Jawa maupun Bali. Selain dijual dalam bentuk buah juga diolah kembali dalam bentuk berbagai rupa. Seperti minuman sari apel, keripik, sambal, dan masih banyak lainnya.
Responsible Tourism
Gunung Arjuna sendiri memiliki ketinggian 3.339 mdpl dengan luas hutan 78 ribu hektar. Terdiri 25 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, dan 53 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Perhutani. Melihat hasil konservasi dan peninggalan situs purbakala yang ada, Kaliandra bersama masyarakat setempat bergiat mengembangkannya sebagai tempat tujuan wisata yang bertanggung jawab (Responsible Tourism).
“Harapannya dari gagasan itu, dapat dikembalikan menjadi basis tumpuan perekonomian masyarakat. Karenanya masyarakat yang terlibat dituntut pro aktif dalam menyambut setiap tamu yang datang. Mulai dari penyediaan home stay, suguhan budaya, hingga pendampingan dalam pendakian,” jelas Sapto Siswoyo, Asisten Pengembangan Masyarakat di Kaliandra.
Untuk mewujudkan mimpi itu, maka terbentuklah MATA (Mount Arjuna Tourism Area). Dalam waktu dekat MATA akan hadir, dengan beberapa tawaran tentang info produk wisata dan kegiatan konservasi yang dilakukan oleh warga lokal, untuk mendorong pengembangan wisata tahan lama di kawasan Arjuna. Bentuknya berupa tracking budaya, hiking puncak Arjuna, paket bersepeda, pengamatan satwa, kegiatan wisata bersama warga sekitar, dan masih banyak lainnya yang ditawarkan.
Dalam perjalanannya MATA berharap adanya beberapa pihak yang terketuk untuk membantu keberlangsungan gagasan ini. Pada tahap awal, Kaliandra menggandeng IUCN (International Union for Conservation of Nature) The Netherlands untuk mengembangkan wisata yang bertanggung jawab di kawasan Arjuna. Dukungan dari pemerintah terkait baik dari kabupaten, kota, maupun propinsi juga masih sangat diharapkan. Misalnya, dengan menerbitkan peraturan daerah tentang pariwisata yang berpihak pada masyarakat setempat. Serta pemerintah diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan baik, karena kawasan Arjuna secara administratif, wilayahnya juga melintasi tiga kabupaten (Pasuruan, Malang, Mojokerto) dan satu kota administratif (Batu).
“Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memfasilitasi pembentukan lembaga pengelola kawasan Destination Management Organisation (DMO),” imbuh pria yang akrab disapa Siswoyo ini. DMO ini terdiri dari empat stake holder, meliputi masyarakat, pemerintah, pihak swasta, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Yang nantinya lembaga ini dapat secara terpadu untuk memastikan kontribusi dari hasil wisata bagi konservasi kawasan Arjuna, serta peningkatan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat lokal.
Jalur Pendakian Gunung Arjuna dan Welirang
Gunung Arjuno dan Gunung Welirang terletak pada satu gunung yang sama dan terletak pada satu rangkaian Gunung Anjasmoro dan Gunung Ringgit. Hanya bedanya jika gunung Arjuno adalah gunung tua yang tak aktif lagi, sedangkan gunung Welirang masih aktif dengan kawah belerangnya. Dan dua gunung tadi bisa di daki dari berbagai jalur. yakni dari Tretes, Lawang dan Batu Selecta.
Jalur Pendakian.
Jalur Tretes-Welirang
Dari Surabaya kita naik bis jurusan Malang atau sebaliknya, turun di Pandaan dan ganti minibus ke jurusan Tretes. Tretes (860 m.dpl) merupakan Tempat Wisata dan Hutan Wisata. Di situ juga terdapat dua air terjun yang indah, yaitu air terjun Kakek Bodo. Di Tretes banyak tersedia hotel maupun losmen, hawanya sejuk dan merupakan tempat peristirahatan yang nyaman.
Setelah mendaftar di Pos PHPA Tretes, yang terletak dibelakang Hotel Surya, kita dapat langsung mendaki Gunung Welirang dan juga Gunung Arjuno. Kita dapat menjumpai sungai kecil dipertengahan antara Tretes dan Pondok Welirang (terdapat Shelter). Setelah berjalan sekitar 4 – 5 jam ke arah barat daya dari Tretes, melewati hutan tropika Lali Jiwo, kita dapat berhenti dan bermalam di Pondok Welirang. Di tempat istirahat para penambang biji belerang ini, kita dapat mengambil air dan memasak atau mandi, karena air cukup melimpah. Hampir setiap hari sekitar 20 – 30 orang buruh mencari dan membawa batu belerang ke Tretes, yang merupakan pemandangan unik.
Besok paginya kita dapat mulai mendaki, dan kira-kira 45 menit perjalanan kita jumpai jalan bercabang, kekiri ke arah Gunung Arjuno, atau lurus langsung kearah ke puncak Gunung Welirang. Dari pondok sampai ke puncak Gunung Welirang ini kita melewati hutan Cemara dan kita akan kita akan sampai di puncak Gunung Welirang setelah perjalanan 3 – 4 jam. Jalur pendakian dari Tretes sampai Gunung Welirang merupakan jalan berbatu yang tertata rapi , tetapi merupakan siksaan tersendiri untuk perjalanan turun.
Dari Puncak Gunung Welirang, yang ditandai dengan batu besar, kita bisa menyaksikan pemandangan menarik kearah Selekta, Tretes dan kaki-kaki langit di Selat Madura. Di bawah puncak Gunung Welirang ada dua kawah berwarna kekuningan yang menyemburkan gas belerang, Kawah Jero yang besar dan lebih dalam dan Kawah Plupuh. Bijih belerang di Kawah Jero inilah yang ditambang secara tradisional. Bila kemalaman kita bisa berteduh di gua-gua disekitar Puncak. Bagi yang tidak tahan aroma belerang sebaiknya tidak berlama-lama berada disekitar Puncak dan kawah, karena akan menyebabkan pening. Perlu waktu 3 – 4 jam untuk turun ke Tretes dari Puncak Gunung Welirang.
Bila kita akan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Arjuno, dari Puncak Gunung Welirang kita berjalan turun ke arah Selatan, dan melalui hutan cemara dengan melewati satu jurang dan lembah Gunung Kembar I dan Gunung Kembar II, dimana kita dapat jumpai beberapa lubang sumur ( luweng) didekat jalur, yang sering digunakan untuk menjebak Rusa. Selanjutnya kita akan melalui Sawahan Bakal (2.626 m.dpl), berupa padang rumput dimana sering dijumpai Rusa dan Kijang.
Setelah berjalan 5 – 6 jam, kita akan sampai di puncak tempat yang dinamakan Pasar Dieng, yang ketinggiannya hampir sama dengan puncak Gunung Arjuno, dimana terdapat batu-batu yang sebagian tersusun rapi seperti pagar dan tanahnya rata agak luas. Perlu 30 menit perjalanan melewati satu puncak lagi, sebelum kita sampai di Puncak Gunung Arjuno yang ditandai dengan batu-batu besar.
Puncak Gunung Arjuno anginnya sangat kencang dan suhunya antara 5 – 10 derajat. Di sini kita dapat menikmati panorama yang sangat indah terutama bila malam hari, kita dapat melihat ke bawah kota-kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, serta Laut Jawa dengan kerlipan lampu-lampu kapal, juga Puncak Gunung Semeru dan semburan asapnya. Puncak Gunung Arjuno disebut juga dengan “Puncak Ogal-agil”. Setelah berkemah di puncak, besok paginya kita dapat turun ke kota Lawang ke arah Timur dengan melewati hutan cemara, hutan tropis dan perdu, setelah itu kita akan melewati Perkebunan Teh Wonosari bagian Utara. Turun ke arah Lawang lebih dekat dan menyingkat waktu, daripada kembali ke arah Gunung Welirang/Tretes. Perjalanan turun ke arah Lawang kurang lebih 6 jam.
Jalur Timur, Lawang
Mendaki Gunung Arjuno dari kota Lawang merupakan awal pendakian yang praktis karena kota Lawang mudah sekali kita tempuh baik dari arah Surabaya maupun Malang, selain itu Puncak Gunung Arjuno dapat langsung kita capai dari arah ini.
Dari arah Surabaya kita naik bis jurusan Malang dan turun di Lawang (76 km). Bila kita dari Malang, maka kita naik dari Terminal Arjosari dengan menggunakan bis atau minibis menuju Lawang, jaraknya 18 km. Dari Lawang kita naik kendaraan umum (angkutan pedesaan) menuju desa Wonorejo sejauh 13 km. Pendakian ke puncak, dimulai dari desa ini menuju ke Perkebunan Teh Wonosari sejauh 3 km. Di sini kita melapor pada petugas PHPA dan juga meminta ijin pendakian, persediaan air kita persiapkan juga di desa terakhir ini.
Dari desa Wonosari terus berjalan dan melewati Perkebunan Teh Wonosari serta terus naik selama 3 – 4 jam perjalanan kita akan sampai di Oro-Oro Ombo yang merupakan tempat berkemah. Dari Oro-oro Ombo menuju ke puncak dibutuhkan waktu 6 – 7 jam perjalanan dengan melewati hutan lebat yang disebut Hutan Lali Jiwo. Dari sini kita akan melalui padang rumput yang jalannya menanjak dan curam sekali. Mendekati puncak, kita akan berjalan melewati batu-batu yang sangat banyak dan menyerupai taman yang sangat indah, setelah itu kita akan mencapai puncak Arjuno.
Dari arah Barat, Sumber Brantas-Batu
Jalur pendakian dari arah Batu, yang terletak di sebelah barat Gunung Welirang, juga merupakan jalur yang menarik dan menyenangkan. Kota Batu, keadaannya tidak berbeda jauh dengan Tretes, merupakan kota wisata memiliki panorma yang menarik, dengan berbagai fasilitasnya. Batu, disebut juga Kota Apel, dan mendapat julukan Swiss-nya Jawa, terletak dilembah Gunung Panderman dan lereng Gunung Arjuno, memiliki kawasan wisata dengan sumber air hangat di Songgoriti. Untuk menuju Batu dari arah Kediri atau Malang kita dapat naik bis/colt, selanjutnya dilanjutkan dengan minibus dari Batu menuju Desa Sumber Brantas lewat Selecta.
Kita bisa berhenti di Selecta, yang juga merupakan kawasan wisata yang ternama, terletak pada ketinggian 1.200 m.dpl, hawanya sejuk dan tersedia sarana wisata yang menyenangkan, kolam renang dan taman bunga, juga pasar buah dan sayur segar. Di Selecta, banyak tersedia hotel maupun losmen dimana kita dapat bermalam. Fasilitas telepon terakhir ada di Selecta ini.
Di Desa Sumber Brantas (1.600 mdpl) terdapat mata air yang merupakan sumber dari Sungai Brantas yang mengalir ratusan kilometer, yang merupakan darah bagi lahan pertanian di Jawa Timur. Di mata air ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Dari Sumber Brantas, mengikuti jalan aspal kearah Pacet -Mojokerto sejauh 8 km, kita akan sampai di Cangar yang merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo yang sedang dikembangkan fasilitasnya, untuk menikmati mandi air panas alami dari kaki Gunung Welirang.
Di Desa Sumber Brantas kendaraan umum biasanya menurunkan kita di Pos KSDA, tetapi kita bisa minta turun (dengan perjanjian) di ujung desa. Sebelum pendakian, kita harus mendaftar kepada Petugas KSDA. Dari ujung desa, kita memulai pendakian selama 2 jam, dengan melewati jalan berbatu yang menanjak dan ladang sayuran ke arah Timur Laut, sampai ke tepi Hutan Lali Jiwo sebelah barat. Dalam perjalanan ini, samar-samar akan terlihat puncak Arjuno. Untuk menyingkat waktu, kita bisa juga menyewa Jeep di desa Sumber Brantas ini, untuk mengantarkan kita sampai akhir kebun sayur di tepi hutan.
Setelah pendakian 4 jam lagi melintasi hutan tropika yang lebat Lali Jiwo, kita akan sampai di punggungan gunung yang menghubungkan puncak Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, tepatnya sebelah Tenggara Gunung Kembar I. Disini terdapat persimpangan, kearah kiri untuk menuju puncak Gunung Welirang selama 2-3 jam dan ke arah kanan menuju Gunung Arjuno selama 4 – 5 jam.
Perjalanan mendekati Puncak Gunung Welirang dilereng sebelah barat, kita akan dapat menyaksikan padang Bunga Edelweis dan Mentigi yang berdaun kemerah-merahan, pemandangan yang menarik in tak akan dijumpai di jalur lain. Di sepanjang perjalanan kita akan sering menjumpai Rusa, Kijang, Tupai Terbang , Lutung juga Burung-burung yang terlihat jinak.
Di Hutan Lali Jiwo (Lali=Lupa, Jiwo=Jiwa/Pikiran), kita harus hati-hati karena mudah tersesat, dan ada pantangan bahwa kita tidak boleh membicarakan sesuatu yang tidak sopan atau bersikap sombong.
Jalur Pendakian.
Jalur Tretes-Welirang
Dari Surabaya kita naik bis jurusan Malang atau sebaliknya, turun di Pandaan dan ganti minibus ke jurusan Tretes. Tretes (860 m.dpl) merupakan Tempat Wisata dan Hutan Wisata. Di situ juga terdapat dua air terjun yang indah, yaitu air terjun Kakek Bodo. Di Tretes banyak tersedia hotel maupun losmen, hawanya sejuk dan merupakan tempat peristirahatan yang nyaman.
Setelah mendaftar di Pos PHPA Tretes, yang terletak dibelakang Hotel Surya, kita dapat langsung mendaki Gunung Welirang dan juga Gunung Arjuno. Kita dapat menjumpai sungai kecil dipertengahan antara Tretes dan Pondok Welirang (terdapat Shelter). Setelah berjalan sekitar 4 – 5 jam ke arah barat daya dari Tretes, melewati hutan tropika Lali Jiwo, kita dapat berhenti dan bermalam di Pondok Welirang. Di tempat istirahat para penambang biji belerang ini, kita dapat mengambil air dan memasak atau mandi, karena air cukup melimpah. Hampir setiap hari sekitar 20 – 30 orang buruh mencari dan membawa batu belerang ke Tretes, yang merupakan pemandangan unik.
Besok paginya kita dapat mulai mendaki, dan kira-kira 45 menit perjalanan kita jumpai jalan bercabang, kekiri ke arah Gunung Arjuno, atau lurus langsung kearah ke puncak Gunung Welirang. Dari pondok sampai ke puncak Gunung Welirang ini kita melewati hutan Cemara dan kita akan kita akan sampai di puncak Gunung Welirang setelah perjalanan 3 – 4 jam. Jalur pendakian dari Tretes sampai Gunung Welirang merupakan jalan berbatu yang tertata rapi , tetapi merupakan siksaan tersendiri untuk perjalanan turun.
Dari Puncak Gunung Welirang, yang ditandai dengan batu besar, kita bisa menyaksikan pemandangan menarik kearah Selekta, Tretes dan kaki-kaki langit di Selat Madura. Di bawah puncak Gunung Welirang ada dua kawah berwarna kekuningan yang menyemburkan gas belerang, Kawah Jero yang besar dan lebih dalam dan Kawah Plupuh. Bijih belerang di Kawah Jero inilah yang ditambang secara tradisional. Bila kemalaman kita bisa berteduh di gua-gua disekitar Puncak. Bagi yang tidak tahan aroma belerang sebaiknya tidak berlama-lama berada disekitar Puncak dan kawah, karena akan menyebabkan pening. Perlu waktu 3 – 4 jam untuk turun ke Tretes dari Puncak Gunung Welirang.
Bila kita akan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Arjuno, dari Puncak Gunung Welirang kita berjalan turun ke arah Selatan, dan melalui hutan cemara dengan melewati satu jurang dan lembah Gunung Kembar I dan Gunung Kembar II, dimana kita dapat jumpai beberapa lubang sumur ( luweng) didekat jalur, yang sering digunakan untuk menjebak Rusa. Selanjutnya kita akan melalui Sawahan Bakal (2.626 m.dpl), berupa padang rumput dimana sering dijumpai Rusa dan Kijang.
Setelah berjalan 5 – 6 jam, kita akan sampai di puncak tempat yang dinamakan Pasar Dieng, yang ketinggiannya hampir sama dengan puncak Gunung Arjuno, dimana terdapat batu-batu yang sebagian tersusun rapi seperti pagar dan tanahnya rata agak luas. Perlu 30 menit perjalanan melewati satu puncak lagi, sebelum kita sampai di Puncak Gunung Arjuno yang ditandai dengan batu-batu besar.
Puncak Gunung Arjuno anginnya sangat kencang dan suhunya antara 5 – 10 derajat. Di sini kita dapat menikmati panorama yang sangat indah terutama bila malam hari, kita dapat melihat ke bawah kota-kota seperti Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, serta Laut Jawa dengan kerlipan lampu-lampu kapal, juga Puncak Gunung Semeru dan semburan asapnya. Puncak Gunung Arjuno disebut juga dengan “Puncak Ogal-agil”. Setelah berkemah di puncak, besok paginya kita dapat turun ke kota Lawang ke arah Timur dengan melewati hutan cemara, hutan tropis dan perdu, setelah itu kita akan melewati Perkebunan Teh Wonosari bagian Utara. Turun ke arah Lawang lebih dekat dan menyingkat waktu, daripada kembali ke arah Gunung Welirang/Tretes. Perjalanan turun ke arah Lawang kurang lebih 6 jam.
Jalur Timur, Lawang
Mendaki Gunung Arjuno dari kota Lawang merupakan awal pendakian yang praktis karena kota Lawang mudah sekali kita tempuh baik dari arah Surabaya maupun Malang, selain itu Puncak Gunung Arjuno dapat langsung kita capai dari arah ini.
Dari arah Surabaya kita naik bis jurusan Malang dan turun di Lawang (76 km). Bila kita dari Malang, maka kita naik dari Terminal Arjosari dengan menggunakan bis atau minibis menuju Lawang, jaraknya 18 km. Dari Lawang kita naik kendaraan umum (angkutan pedesaan) menuju desa Wonorejo sejauh 13 km. Pendakian ke puncak, dimulai dari desa ini menuju ke Perkebunan Teh Wonosari sejauh 3 km. Di sini kita melapor pada petugas PHPA dan juga meminta ijin pendakian, persediaan air kita persiapkan juga di desa terakhir ini.
Dari desa Wonosari terus berjalan dan melewati Perkebunan Teh Wonosari serta terus naik selama 3 – 4 jam perjalanan kita akan sampai di Oro-Oro Ombo yang merupakan tempat berkemah. Dari Oro-oro Ombo menuju ke puncak dibutuhkan waktu 6 – 7 jam perjalanan dengan melewati hutan lebat yang disebut Hutan Lali Jiwo. Dari sini kita akan melalui padang rumput yang jalannya menanjak dan curam sekali. Mendekati puncak, kita akan berjalan melewati batu-batu yang sangat banyak dan menyerupai taman yang sangat indah, setelah itu kita akan mencapai puncak Arjuno.
Dari arah Barat, Sumber Brantas-Batu
Jalur pendakian dari arah Batu, yang terletak di sebelah barat Gunung Welirang, juga merupakan jalur yang menarik dan menyenangkan. Kota Batu, keadaannya tidak berbeda jauh dengan Tretes, merupakan kota wisata memiliki panorma yang menarik, dengan berbagai fasilitasnya. Batu, disebut juga Kota Apel, dan mendapat julukan Swiss-nya Jawa, terletak dilembah Gunung Panderman dan lereng Gunung Arjuno, memiliki kawasan wisata dengan sumber air hangat di Songgoriti. Untuk menuju Batu dari arah Kediri atau Malang kita dapat naik bis/colt, selanjutnya dilanjutkan dengan minibus dari Batu menuju Desa Sumber Brantas lewat Selecta.
Kita bisa berhenti di Selecta, yang juga merupakan kawasan wisata yang ternama, terletak pada ketinggian 1.200 m.dpl, hawanya sejuk dan tersedia sarana wisata yang menyenangkan, kolam renang dan taman bunga, juga pasar buah dan sayur segar. Di Selecta, banyak tersedia hotel maupun losmen dimana kita dapat bermalam. Fasilitas telepon terakhir ada di Selecta ini.
Di Desa Sumber Brantas (1.600 mdpl) terdapat mata air yang merupakan sumber dari Sungai Brantas yang mengalir ratusan kilometer, yang merupakan darah bagi lahan pertanian di Jawa Timur. Di mata air ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak dan kembalinya. Dari Sumber Brantas, mengikuti jalan aspal kearah Pacet -Mojokerto sejauh 8 km, kita akan sampai di Cangar yang merupakan kawasan Taman Hutan Rakyat Suryo yang sedang dikembangkan fasilitasnya, untuk menikmati mandi air panas alami dari kaki Gunung Welirang.
Di Desa Sumber Brantas kendaraan umum biasanya menurunkan kita di Pos KSDA, tetapi kita bisa minta turun (dengan perjanjian) di ujung desa. Sebelum pendakian, kita harus mendaftar kepada Petugas KSDA. Dari ujung desa, kita memulai pendakian selama 2 jam, dengan melewati jalan berbatu yang menanjak dan ladang sayuran ke arah Timur Laut, sampai ke tepi Hutan Lali Jiwo sebelah barat. Dalam perjalanan ini, samar-samar akan terlihat puncak Arjuno. Untuk menyingkat waktu, kita bisa juga menyewa Jeep di desa Sumber Brantas ini, untuk mengantarkan kita sampai akhir kebun sayur di tepi hutan.
Setelah pendakian 4 jam lagi melintasi hutan tropika yang lebat Lali Jiwo, kita akan sampai di punggungan gunung yang menghubungkan puncak Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, tepatnya sebelah Tenggara Gunung Kembar I. Disini terdapat persimpangan, kearah kiri untuk menuju puncak Gunung Welirang selama 2-3 jam dan ke arah kanan menuju Gunung Arjuno selama 4 – 5 jam.
Perjalanan mendekati Puncak Gunung Welirang dilereng sebelah barat, kita akan dapat menyaksikan padang Bunga Edelweis dan Mentigi yang berdaun kemerah-merahan, pemandangan yang menarik in tak akan dijumpai di jalur lain. Di sepanjang perjalanan kita akan sering menjumpai Rusa, Kijang, Tupai Terbang , Lutung juga Burung-burung yang terlihat jinak.
Di Hutan Lali Jiwo (Lali=Lupa, Jiwo=Jiwa/Pikiran), kita harus hati-hati karena mudah tersesat, dan ada pantangan bahwa kita tidak boleh membicarakan sesuatu yang tidak sopan atau bersikap sombong.
Badai Pembunuh Gunung Arjuna
BADAI PEMBUNUH
Laporan Perjalanan
Pendakian Gunung Arjuna 3339 m dpl
Jawa Timur, Indonesia
Para petualang jangan hanya sekedar pergi bertualang, tetapi juga menulis. Bukankah dengan menulis kita bisa bercerita, membagi pengalaman atau membagi ilmu yang kita miliki. Seperti Norman Edwin, Peter Bordman, Doug Scout, Pat Morrow, Reinold Messner, dan yang lain. Tak harus menunggu punya prestasi dulu, mendaki gunung-gunung es dulu, memburu Seven Summits atau 14th Dead Zone untuk menulis cerita pendakian. Cukup meniru bagaimana niat dan semangat mereka untuk bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan, agar keberhasilan itu dapat ditiru orang lain; atau tentang kegagalan, agar kegagalan itu tidak diulang oleh orang lain.
Di mata orang awam, melakukan aktifitas petualangan, terutama mendaki gunung mungkin dianggap sebagai hal yang bodoh karena sengaja menghampiri atau mengakrabi maut. Tapi dilihat dari sudut pandang petualang sendiri, umumnya kegiatan alam bebas didasari oleh rasa keingintahuan manusia untuk mencari atau melihat hal-hal baru. Di dalam ilmu psikologi disebut Ulysses Factor. Ulysses atau Odysseus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang rela meninggalkan kehangatan rumah serta keluarga tercinta hanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Di dalam pengembaraannya, Ulysses menghadapi banyak merabahaya. Ia bahkan terlibat perang besar Troya dan harus berhadapan dengan Cyclop, raksasa bermata satu yang teramat kejam. Di akhir kisah, Ulysses pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan isteri yang selalu setia menunggu kepulangannya. Karena keberanian itu, Ulysses menjadi idola para pemuda Yunani. Ulysses Factor inilah yang menginspirasi para petualang untuk melakukan sebuah perjalanan berharga dan menceritakannya, bukan untuk gagah-gagahaan, pamer kekuatan atau berapa banyak materi yang dihabiskan, tetapi untuk mendorong orang lain untuk ikut bertualang, merasakan getir nadir petualangan, kepuasan dan keindahan alam.
Tinggi Gunung Arjuna adalah 3339 meter di atas permukaan laut, terletak di Kabupaten Malang, Mojokerto dan Pasuruan. Gunung Welirang adalah ‘saudara muda’ Gunung Arjuna yang berada dekat dengan Gunung Arjuna. Untuk mendaki Gunung Welirang, pendaki bisa menggunakan jalur pendakian Gunung Arjuna via tretes dan mengambil percabangan ke arah utara saat sampai di Pos III, Pondokan Gunung Arjuna.
26 Juni 2007, siang hari. 5 anggota Kicita telah sampai di Kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Madiun. Mereka adalah Koceng, Kriwul, Cipeng, Manto dan Bremi semuanya adalah anggota dari angkatan ke 24. Rencana awalnya, kelima petualang kita ini akan mengikuti pendakian masal Gunung Semeru yang diadakan oleh Gravel, sebuah kelompok penggiat kegiatan alam bebas sekaligus produsen dan distributor adventure equipment di Kota Malang. Sampai di Unisma, tempat berkumpul peserta yang sudah disepakati, Koceng dan Bremi menghubungi panitia, tidak sampai setengah jam, seorang laki-laki gondrong, berpenampilan khas seorang pendaki gunung datang membawa sebuah kabar baik dan sebuah kabar buruk. Kabar buruknya pendakian masal ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan karena Gunung Semeru meletus dan kabar baiknya, panitia menyediakan tempat menginap bagi mereka, memberi kesempatan kami melihat-lihat tempat produksi dan gravel adventure shop. Panitia mengapresiasi partisipasi mereka karena sangat jarang sebuah kelompok pencinta alam SMA yang berpartisipasi dalam even pendakian seperti itu. Sebagai pelampiasan pendakian yang gagal, panitia menyarankan mereka mengalihkan pendakian ke Gunung Arjuna, dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, sekitar jam 3 sore, akhirnya mereka memutuskan untuk langsung bertolak menuju base camp pendakian Gunung Arjuna. Dari Kota Malang para pendaki kita bergerak ke arah utara menyibak jalanan Kota Malang yang ramai oleh lalu lalang kendaraan para pekerja dan mahasiswa. Matahari masih bersinar agak panas di tengah hawa sejuk. Setelah melewati Kecamatan Singasari, Lawang, Purwosari, dan Pandaan, perjalanan diteruskan dengan berbelok ke arah timur jurusan Prigen, menuju kawasan wisata tretes. Jalan semakin menanjak dan hawa semakin dingin setelah kira-kira 1 setengah jam perjalanan. Di kanan dan kiri jalan banyak ditemui penginapan-penginapan kelas melati yang menawarkan layanan ‘plus plus’ bagi pelanggannya. Sebelum sampai di base camp pendakian, mereka berhenti di sebuah minimarket untuk mengisi perbekalan terakhir dan beristirahat sejenak, dari seberang jalan minimarket, keluar 3 wanita berkulit gelap dari sebuah penginapan melati dengan pakaian minim masuk ke dalam minimarket, dari pandangan mereka, kelima pendaki kita langsung tahu profesi mereka. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber yang bisa dipercaya, kawasan tretes adalah kawasan prostitusi terbesar kedua di Jawa Timur dan kawasan judi terbesar pertama yang berkedok kawasan wisata pegunungan. Kawasan ini adalah Las Vegas-nya Jawa Timur.
Base camp pendakian Gunung Arjuna terletak di dekat Hotel Surya, bagi para pendaki yang baru pertama ke tempat ini disarankan untuk sering-sering bertanya karena lokasi base camp pendakian agak tersembunyi dan tidak ada tanda yang menonjol. Selepas magrib, setelah mengurus perijinan di base camp pendakian, kelima pendaki kita langsung melakukan trekking menuju pos I, pet bocor, yang bisa ditempuh selama sekitar 30 menit. Selepas base camp, jalur pendaki langsung memasuki Tahura Surya dengan vegetasi heterogen, Tahura adalah Taman Hutan Raya, nama Surya diambil dari nama Gubernur pertama Jawa Timur, Gubernur Surya. Rute dari base camp menuju pet bocor cukup ringan, tidak terlalu menanjak dengan jalan beraspal dan dilanjutkan jalan tanah berbatu. Setelah melewati camping ground Tahura Surya, mereka sampai di sebuah tanah lapang di sisi kiri route, tempat inilah yang disebut pet bocor. Malam itu mereka memutuskan mendirikan camp I dan bermalam di pos I, mengumpulkan tenaga untuk pendakian esok hari.
Jam 01.00 WIB, Koceng yang pertama terbangun oleh suara alarm, dia mulai membangunkan anggota tim yang lain dan langsung packing. Rencana awalnya, setelah mendirikan camp I di pet bocor, mereka akan mendirikan camp II di lembah kidang, di atas pos III pondokan dan dari camp II lembah kidang inilah mereka akan langsung memburu puncak di pagi hari, mengejar sunrise. Petugas di base camp pendakian menyarankan mereka agar tidak mendirikan camp di pos II kokopan dan pos III pondokan. Jam 01.30, sinar head lamp berseliweran di tengah hutan di antara batang-batang pepohonan, menyibak kabut tipis yang menyelimuti pet bocor, sesekali masih terdengar suara jangkrik yang terus saja berjaga sejak hari menjadi gelap. Selepas pos I, masih di dalam kawasan Tahura Surya, rute semakin menanjak, jalan tanah berbatu dengan vegetasi heterogen. Setelah semalaman beristirahat dan melakukan aklimatisasi (adaptasi terhadap suhu dan lingkungan) yang cukup, mereka benar-benar dalam kondisi fit untuk melakukan pendakian. 3 jam kemudian, sesuai dengan standart, mereka sampai di ketinggian 1500 m dpl, pos II kokopan. Jam 04.30 pagi, tepat saat matahari terbit, mereka beristirahat di pos II, memasak perbekalan dan kembali mengumpulkan tenaga. Mereka baru sadar mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos II ini. Pemandangan di pos ini sangat indah, tepat menghadap ke timur, saat matahari terbit, dari tempat ini tampak jelas pemandangan Pandaan, Porong dan Bangil lengkap dengan kubangan lumpur yang terus mengeluarkan asap yang sering disebut sebagai lumpur lapindo. Di belakang camping ground pos II ini, ada sumber air jernih yang melimpah ruah sebagai persediaan untuk para pendaki. Itulah alasan mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos ini, pemandangan yang indah dan sumber air yang melimpah ruah akan membuat pendaki malas untuk melanjutkan pendakian selanjutnya. Di pos ini mereka bertemu seorang pendaki solo asal Pandaan bernama Mas Dirman. Sambil menyantap sarapan pagi, menikmati pemandangan Pandaan dari ketinggian yang indah di depan api unggun yang mulai menjadi bara, mereka menyempatkan diri mengobrol dengan Mas Dirman. Ternyata Mas Dirman mengamini saran petugas di base camp pendakian untuk tidak mendirikan camp di pos II kokopan ini dan pos III pondokan. Pos III pondokan adalah tempat para penambang belerang di Gunung Welirang, disana banyak ditemukan gubug-gubug tempat tinggal para penambang belerang, dan mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah dengan kedatangan pendaki. Sering terdengar kabar banyak pendaki yang kehilangan barang ketika mendirikan camp di pos III pondokan karena dicuri para penambang belerang, tak jarang juga mereka mengambil dengan paksa. Sebelum melakukan pendakian ini, tim ekspedisi Kicita sudah membaca beberapa referensi dari buku petualangan dan dokumentasi pendakian gunung-gunung di Indonesia, tetapi untuk mengantisipasi kemungkinan ada bagian tertentu di lapangan yang tidak ditulis di dalam referensi, sosialisasi masyarakat sekitar tetap perlu dilakuakan, tujuannya untuk mendapatkan informasi yang akurat dan up date. Dari buku ‘Jejak Sang Petualang’ karya Harry Wijaya, mereka memperoleh informasi berharga, bahwa pambunuh nomor 1 di gunung Arjuna adalah badai. Puncak Gunung Arjuna selalu terselimuti kabut tebal sepanjang hari yang sewaktu-waktu bisa menjadi badai. Kesimpulannya, mereka harus sebisa mungkin menghindari badai Gunung Arjuna. Jam 07.00, tak ingin terus berlarut-larut di pos II, mereka melanjutkan pendakian. Selepas dari pos II, mereka memasuki kawasan hutan angker alas lali jiwa (hutan lupa diri), konon katanya di tempat inilah banyak pendaki yang hilang ingatan. Rutenya panjang, lurus menanjak dengan vegetasi pinus dan bunga lavender. Jalan tanah licin, kering dan rapuh, ketika diinjak akan mengepulkan debu yang bisa mengganggu pernafasan, pada awalnya ketika memasuki kawasan ini akan terpesona dengan keindahannya, tetapi semakin lama akan bosan karena trek yang monoton, panjang dan melelahkan, pendaki yang kurang berpengalaman akan mengeluh ‘kok nggak sampe-sampe sih?’, menjadi binging dan putus asa, itulah alasan logis mengapa kawasan hutan ini sering disebut alas lali jiwa. Beberapa kali mereka harus berhenti, beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Karena jalan yang berdebu, mereka memutuskan untuk menjaga jarak beberapa meter antara satu dengan yang lain, jarak yang dekat akan merugikan anggota tim pendakian yang di belakang karena akan menghisap debu yang mengepul karena tanah diinjak anggota tim di depannya. Lewat tengah hari mereka belum juga sampai di pos III, ini adalah rute paling sulit sepanjang jalur pandakian Gunung Arjuna via Tretes. Keputusasaan mulai menghinggap, fisik mulai drop, belum lagi pikiran mereka diganggu bayang-bayang para penambang belerang yang katanya adalah jenis masyarakat yang tidak ramah terhadap para pendaki, terlintas bayang-bayang kegagalan pendakian. Tapi sebelum mereka benar-benar larut dalam romantisme kegagalan, salah satu anggota tim mulai berdiri dan meyakinkan yang lain, memberikan setetes semangat dan akhirnya demi mengibarkan panji-panji kehormatan, mereka memutuskan untuk merobohkan keterbatasan dan melanjutkan pendakian. Jam 2 siang mereka sampai di ‘neraka’ yang didengung-dengungkan Mas Dirman, pos III Pondokan. Pandangan sengit para penambang belerang menyambut, para penambang berbicara, berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti para pendaki kita, mereka seperti sekelompok perawan di sarang penyamun. Di pos III pondokan ini berdiri berpuluh-puluh gubug penambang belerang tapi para pendaki tidak bisa sembarangan menginap atau sekedar masuk di dalam gubug karena mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah. Di pos ini ada 2 percabangan, ke kanan adalah rute menuju puncak Gunung Welirang dan percabangan ke kiri adalah rute menuju puncak Gunung Arjuna. Tak ingin membuang waktu, mereka langsung melanjutkan pendakian. Selepas pos ini, rute relatif datar, tidak terlalu berat dengan vegetasi hutan pinus dan semak setinggi di atas kepala, kali ini trek tidak lagi tanah berdebu, cukup kering dan bersahabat. Bonus ! Sesuai dengan instruksi Mas Dirman, mereka harus meloncati beberapa batang pohon tumbang yang merintang di tengah jalan untuk sampai di lembah kidang, “Jangan mengikuti rute ke kiri saat menemui pohon tumbang karena jalur itu akan menyesatkan pendaki ke lembah babi.” Begitu penuturan Mas Dirman. Sekitar jam 3 sore, mereka sampai di lembah kidang, kawasan batas vegetasi hutan pinus dengan padang rumput yang indah, tim ekspedisi Kicita mendirikan camp II di lembah kidang di ketinggian 2250 m dpl. Tempat ini memang bukan pos pendakian atau camping ground, tapi di tempat ini bisa ditemukan sumber air dan tanah datar untuk mendirikan camp. Tempat ini adalah pilihan terakhir untuk mendirikan camp karena selepas tempat ini akan jarang ditemui pohon tinggi sehingga tekanan angin akan sangat kuat yang akan menyulitkan aktifitas pendaki. Dari tempat ini pula terlihat puncak Gunung Arjuna dikelilingi tebing-tebing batu yang berdiri angkuh, sesekali puncak tertutup kabut tipis. Tepat saat petang, sekelompok pendaki Santa Pala Jember datang, mereka juga hendak melakukan summit attack (penyergapan puncak) dari lembah kidang. Mereka datang agak terlambat karena tersesat sampai ke lembah babi. Tidak lama setelah kedatangan mereka, datang lagi 4 pendaki dari Gresik, mereka baru saja turun dari puncak. Malam hari, di depan api unggun, tim ekspedisi Kicita menyusun lagi strategi summit attack esok hari. Rencana awalnya mereka akan melakukan summit attack sekitar jam 2 dini hari agar bisa menyaksikan sunrise di puncak esok hari, tetapi pertemuan dengan Santa Pala Jember, sedikit banyak merubah strategi. Dari penuturan seorang anggota Santa Pala yang sudah berpengalaman, mereka mendapatkan gambaran bahwa rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, treknya juga bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi juga bervariasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Akhirnya, dengan pertimbangan keamanan dan kurangnya pengalaman, tim pendaki Kicita memutuskan untuk memilih alternatif yang lebih realistis, mereka akan bergabung dengan pendaki Santa Pala untuk melakukan summit attack esok hari. Keterbatasan informasi dalam referensi bisa ditutupi dengan sosialisasi, bertanya pada pendaki lain atau masyarakat sekitar.
Pagi hari, reselting tenda terbuka, api unggun menyisakan bara. Kabut tipis tersibak perlahan ketika sinar-sinar matahari mulai turun serupa jembatan cahaya dari langit. Puncak yang dikelilingi tebing-tebing terjal terlihat semakin gagah menantang. Ransel, air minum, makanan ringan, bendera panji-panji dan kamera telah siap. Setelah menyantap sarapan pagi, tim ekspedisi Kicita yang begabung dengan tim pendaki Santa Pala telah siap melakukan summit attack. Benar saja, apa yang dituturkan seorang pendaki dalam kelompok Santa Pala benar-benar mereka alami, rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit bahkan semakin lama semakin sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, trek bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Beberapa kali mereka berhenti, beristirahat dan kembali mendaki lagi, semakin tinggi, udara semakin tipis, angin semakin kencang, semakin dingin dan semakin sulit, ditambah lagi kabut yang datang mengaburkan pandangan. Jam 11.30, mereka disuguhi trek pasir berkerikil menanjak sampai 60 derajat, untuk mendakinya, mereka benar-benar harus merangkak tidak hanya menggunakan kaki tapi juga kedua tangan, sudah sangat jarang tumbuhan yang hidup di daerah ini, hanya beberapa pohon manisrejo yang tumbuh jarang dan berjauhan. Harap berhati-hati saat memasuki kawasan ini karena di kanan dan kiri terdapat jurang yang tertutup kabut sehingga sulit terlihat. Setelah melewati kawasan ini, mereka sampai di sebuah puncak semu dengan batu-batu berserakan, kabut masih tebal menyelimuti. Di kawasan ini ada beberapa in memoriam beberapa pendaki yang meninggal saat mendaki Gunung Arjuna. Pasar Dieng. Dari tempat ini puncak Gunung Arjuna sudah terlihat namun jangan dikira pendakian akan lebih mudah, jalan dari pasar dieng menuju puncak Gunung Arjuna seperti jembatan pasir berkerikil dengan jurang terjal tertutup kabut di kanan dan kirinya. Perlu kehati-hatian dan tenaga ekstra untuk melewati trek terakhir menuju puncak ini. Jika kaki tidak kuat menapak bersiap-siaplah untuk terbawa angin, masih untung jatuh tersungkur di tanah pasir berkerikil tajam daripada masuk ke jurang, jatuh dari tebing di sisi kanan dan kiri rute. Angin tiba-tiba datang, kencang menerjang, mereka berhenti menguatkan kaki agar tidak terbang terbawa angin. Bahkan ada beberapa pendaki yang tiarap untuk menghindari terjangan angin. Malam selalu lebih pekat sebelum fajar tiba, sebelum sampai ke puncak memang selalu terasa lebih berat. Cipeng yang berjalan paling belakang terlihat berhenti saat angin mulai reda dan anggota tim yang lain sudah mulai berjalan, ternyata matanya yang tidak terlindungi kacamata kemasukan butir-butir pasir yang terbawa angin, dia sempat tertunduk lesu. Tapi setelah mendengar seseorang berteriak kegirangan saat berhasil menjejak puncak, dia bangkit lagi, semangatnya membara lagi. Puncak sudah dekat, hanya tinggal beberapa puluh meter saja.
Tengah hari, tim ekspedisi Kicita sampai di tempat dengan batu-batu besar berserakan, bertumpukan tak beraturan. Batu-batu yang menjadi media vandalisme para pendaki. Kabut sangat tebal menyelimuti hingga mengganggu pengelihatan. Rasanya seperti berada di negeri awan kapas putih, sejauh mata memandang hanya ada warna putih gelap. Rasa haru, mengharu biru menderu, ada beberapa kelompok pendaki yang juga sudah sampai di tempat itu, mereka tampak bersuka cita, berteriak puas melepas lelah sambil mengambil gambar. Setelah melalui pendakian yang panjang dan melelahkan, tertatih-tatih akhirnya 28 Juni 2007, sekitar jam 12.10, panji-panji Kicita berkibar di puncak ogal-agil, Gunung Arjuna 3339 m dpl. Puncak tertinggi Gunung Arjuna ini disebut puncak ogal-agil karena ada batu yang sering ogal-agil (bergoyang-goyang sendiri), saking kencangnya angin bertiup.
Perjalanan turun tidak kalah menantang dan melelahkan. Titik-titik air mulai turun menetes, langit seakan memberi peringatan akan turunnya hujan. Tak ingin terjebak badai di ketinggian, mereka memutuskan segera turun. Seorang pendaki berpengalaman yang saat itu juga berada di puncak berteriak memberi peringatan pada yang lain, “Cepat turun, mau ada badai !” Langit seakan hampir runtuh, puncak itu berada dalam kurungan kabut gelap yang segera berubah menjadi hujan badai karena tekanan udara dan angin yang kencang. Sontak para pendaki segera berlari secepat mungkin, badai Gunung Arjuna terkenal ganas. Sendi-sendi yang soak menjadi senjata utama untuk turun gunung, tangan-tangan telanjang menjadi rem dengan menyangkutkannya pada pepohonan, semak dan rumput ilalang. Rasa lelah, kantuk dan sakit benar-benar dihiraukan, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana bisa turun secepat mungkin, dan caranya adalah dengan berlari. Koceng dan Bremi yang masih punya sisa tenaga lebih, berlari di depan jauh meninggalkan yang lain. Ini adalah strategi, mereka akan sampai di camp II lembah kidang terlebih dahulu, mereka akan segera melakukan packing dan saat anggota tim pendakian yang lain sampai di camp II lembah kidang, bersama-sama mereka sudah siap untuk turun dari ketinggian menghindari pembunuh nomor 1 Gunung Arjuna. Jam 3 sore tim ekspedisi sudah berkumpul di camp II dan bersiap-siap turun meninggalkan ketinggian. Tim pendaki Santa Pala yang juga sudah berada di camp lembah kidang memilih untuk tetap tinggal di lembah kidang karena salah satu anggota tim mereka mengalami cidera. Tanda-tanda badai sudah sangat jelas, kabut turun tiba-tiba, tidak ada angin, dan udara menghangat.
Sesaat setelah mereka meninggalkan camp II di lembah kidang, ketika sampai di kawasan angker alas lali jiwa, badai tiba-tiba menyergap. Angin dan hujan bersekongkol mengoyak seisi hutan. Trek yang awalnya berupa debu kering yang rapuh, kini berubah menjadi sungai lumpur yang meluncur berarus deras karena hujan. Dan sungai lumpur itulah satu-satunya jalan turun. Beberapa kali mereka harus berjuang menjaga agar tidak jatuh tergelincir atau kaki-kaki mereka tertancap ke dalam genangan lumpur. Beberapa kali mereka terjatuh berguling di lumpur. Selama beberapa jam mereka terus turun, beberapa kali berhenti untuk beristirahat, hanya berdiri, mulut-mulut sengaja terbuka ke atas menangkap air-air hujan. Kaki-kaki mereka sampai bergetar hebat meski hanya diam. Lagi-lagi, di lokasi yang sama, mereka terombang-ambing antara selamat dan sekarat. Kantuk, lelah, lapar dan sakit tak lagi dihiraukan. Hari sudah gelap, tapi mereka belum juga sampai di pos II. Pendaki manapun selalu berada di batas nuansa antara cerah dan badai, berhasil dan gagal, selamat dan maut. Dan inilah tebusan untuk sebuah keberhasilan.
Di pos II kokopan. Hujan reda perlahan, meninggalkan genangan air dimana-mana, titik-titik air turun jatuh berguguran menciptakan kecipak kecil setelah menyentuh genangan, beberapa tersangkut di daun pepohonan. Sejak sore hujan badai lebat, hari mulai gelap seiring hujan yang mulai reda. Beberapa tenda masih tertutup rapat, para pendaki di dalamnya memilih untuk tinggal di dalamnya, menyalakan lampu badai dan menyantap hidangan malam itu. Mas Dirman mulai membuka resleting tendanya. Sebelum turun hujan, dia sudah menyiapkan kayu bakar yang dibungkus ponco dan disimpan di teras tendanya agar tidak basah kehujanan. Hujan sudah benar-benar berhenti, api mulai dinyalakan, menggugah pos II kokopan yang semula mati suri karena hujan. Dari kejauhan dia melihat beberapa sorot sinar head lamp bersliweran terhuyung-huyung, semakin lama semakin mendekat dan akhirnya dia melihat 5 pendaki tertatih-tatih turun dari ketinggian, basah kuyub penuh lumpur kedinginan, kaki bergetar, mata mereka memerah. Mas Dirman langsung menyambut mereka, memasukkan barang-barang ke dalam tenda, memasakkan nasi dan kopi. Beberapa anggota beristirahat di dalam tenda miliknya. Mereka berlima adalah tim ekspedisi Kicita.
Satu bulan setelah mereka berlima turun dan kembali ke Madiun. Manto datang ke base camp pencinta alam Kicita sambil membawa selembar surat kabar, Jawa Pos edisi 6 Agustus 2007. Salah satu kolom dalam surat kabar itu bercerita tentang seorang pendaki yang tewas saat mendaki Gunung Arjuna beberapa hari yang lalu.
Laporan Perjalanan
Pendakian Gunung Arjuna 3339 m dpl
Jawa Timur, Indonesia
Para petualang jangan hanya sekedar pergi bertualang, tetapi juga menulis. Bukankah dengan menulis kita bisa bercerita, membagi pengalaman atau membagi ilmu yang kita miliki. Seperti Norman Edwin, Peter Bordman, Doug Scout, Pat Morrow, Reinold Messner, dan yang lain. Tak harus menunggu punya prestasi dulu, mendaki gunung-gunung es dulu, memburu Seven Summits atau 14th Dead Zone untuk menulis cerita pendakian. Cukup meniru bagaimana niat dan semangat mereka untuk bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan, agar keberhasilan itu dapat ditiru orang lain; atau tentang kegagalan, agar kegagalan itu tidak diulang oleh orang lain.
Di mata orang awam, melakukan aktifitas petualangan, terutama mendaki gunung mungkin dianggap sebagai hal yang bodoh karena sengaja menghampiri atau mengakrabi maut. Tapi dilihat dari sudut pandang petualang sendiri, umumnya kegiatan alam bebas didasari oleh rasa keingintahuan manusia untuk mencari atau melihat hal-hal baru. Di dalam ilmu psikologi disebut Ulysses Factor. Ulysses atau Odysseus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang rela meninggalkan kehangatan rumah serta keluarga tercinta hanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Di dalam pengembaraannya, Ulysses menghadapi banyak merabahaya. Ia bahkan terlibat perang besar Troya dan harus berhadapan dengan Cyclop, raksasa bermata satu yang teramat kejam. Di akhir kisah, Ulysses pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan isteri yang selalu setia menunggu kepulangannya. Karena keberanian itu, Ulysses menjadi idola para pemuda Yunani. Ulysses Factor inilah yang menginspirasi para petualang untuk melakukan sebuah perjalanan berharga dan menceritakannya, bukan untuk gagah-gagahaan, pamer kekuatan atau berapa banyak materi yang dihabiskan, tetapi untuk mendorong orang lain untuk ikut bertualang, merasakan getir nadir petualangan, kepuasan dan keindahan alam.
Tinggi Gunung Arjuna adalah 3339 meter di atas permukaan laut, terletak di Kabupaten Malang, Mojokerto dan Pasuruan. Gunung Welirang adalah ‘saudara muda’ Gunung Arjuna yang berada dekat dengan Gunung Arjuna. Untuk mendaki Gunung Welirang, pendaki bisa menggunakan jalur pendakian Gunung Arjuna via tretes dan mengambil percabangan ke arah utara saat sampai di Pos III, Pondokan Gunung Arjuna.
26 Juni 2007, siang hari. 5 anggota Kicita telah sampai di Kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Madiun. Mereka adalah Koceng, Kriwul, Cipeng, Manto dan Bremi semuanya adalah anggota dari angkatan ke 24. Rencana awalnya, kelima petualang kita ini akan mengikuti pendakian masal Gunung Semeru yang diadakan oleh Gravel, sebuah kelompok penggiat kegiatan alam bebas sekaligus produsen dan distributor adventure equipment di Kota Malang. Sampai di Unisma, tempat berkumpul peserta yang sudah disepakati, Koceng dan Bremi menghubungi panitia, tidak sampai setengah jam, seorang laki-laki gondrong, berpenampilan khas seorang pendaki gunung datang membawa sebuah kabar baik dan sebuah kabar buruk. Kabar buruknya pendakian masal ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan karena Gunung Semeru meletus dan kabar baiknya, panitia menyediakan tempat menginap bagi mereka, memberi kesempatan kami melihat-lihat tempat produksi dan gravel adventure shop. Panitia mengapresiasi partisipasi mereka karena sangat jarang sebuah kelompok pencinta alam SMA yang berpartisipasi dalam even pendakian seperti itu. Sebagai pelampiasan pendakian yang gagal, panitia menyarankan mereka mengalihkan pendakian ke Gunung Arjuna, dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, sekitar jam 3 sore, akhirnya mereka memutuskan untuk langsung bertolak menuju base camp pendakian Gunung Arjuna. Dari Kota Malang para pendaki kita bergerak ke arah utara menyibak jalanan Kota Malang yang ramai oleh lalu lalang kendaraan para pekerja dan mahasiswa. Matahari masih bersinar agak panas di tengah hawa sejuk. Setelah melewati Kecamatan Singasari, Lawang, Purwosari, dan Pandaan, perjalanan diteruskan dengan berbelok ke arah timur jurusan Prigen, menuju kawasan wisata tretes. Jalan semakin menanjak dan hawa semakin dingin setelah kira-kira 1 setengah jam perjalanan. Di kanan dan kiri jalan banyak ditemui penginapan-penginapan kelas melati yang menawarkan layanan ‘plus plus’ bagi pelanggannya. Sebelum sampai di base camp pendakian, mereka berhenti di sebuah minimarket untuk mengisi perbekalan terakhir dan beristirahat sejenak, dari seberang jalan minimarket, keluar 3 wanita berkulit gelap dari sebuah penginapan melati dengan pakaian minim masuk ke dalam minimarket, dari pandangan mereka, kelima pendaki kita langsung tahu profesi mereka. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber yang bisa dipercaya, kawasan tretes adalah kawasan prostitusi terbesar kedua di Jawa Timur dan kawasan judi terbesar pertama yang berkedok kawasan wisata pegunungan. Kawasan ini adalah Las Vegas-nya Jawa Timur.
Base camp pendakian Gunung Arjuna terletak di dekat Hotel Surya, bagi para pendaki yang baru pertama ke tempat ini disarankan untuk sering-sering bertanya karena lokasi base camp pendakian agak tersembunyi dan tidak ada tanda yang menonjol. Selepas magrib, setelah mengurus perijinan di base camp pendakian, kelima pendaki kita langsung melakukan trekking menuju pos I, pet bocor, yang bisa ditempuh selama sekitar 30 menit. Selepas base camp, jalur pendaki langsung memasuki Tahura Surya dengan vegetasi heterogen, Tahura adalah Taman Hutan Raya, nama Surya diambil dari nama Gubernur pertama Jawa Timur, Gubernur Surya. Rute dari base camp menuju pet bocor cukup ringan, tidak terlalu menanjak dengan jalan beraspal dan dilanjutkan jalan tanah berbatu. Setelah melewati camping ground Tahura Surya, mereka sampai di sebuah tanah lapang di sisi kiri route, tempat inilah yang disebut pet bocor. Malam itu mereka memutuskan mendirikan camp I dan bermalam di pos I, mengumpulkan tenaga untuk pendakian esok hari.
Jam 01.00 WIB, Koceng yang pertama terbangun oleh suara alarm, dia mulai membangunkan anggota tim yang lain dan langsung packing. Rencana awalnya, setelah mendirikan camp I di pet bocor, mereka akan mendirikan camp II di lembah kidang, di atas pos III pondokan dan dari camp II lembah kidang inilah mereka akan langsung memburu puncak di pagi hari, mengejar sunrise. Petugas di base camp pendakian menyarankan mereka agar tidak mendirikan camp di pos II kokopan dan pos III pondokan. Jam 01.30, sinar head lamp berseliweran di tengah hutan di antara batang-batang pepohonan, menyibak kabut tipis yang menyelimuti pet bocor, sesekali masih terdengar suara jangkrik yang terus saja berjaga sejak hari menjadi gelap. Selepas pos I, masih di dalam kawasan Tahura Surya, rute semakin menanjak, jalan tanah berbatu dengan vegetasi heterogen. Setelah semalaman beristirahat dan melakukan aklimatisasi (adaptasi terhadap suhu dan lingkungan) yang cukup, mereka benar-benar dalam kondisi fit untuk melakukan pendakian. 3 jam kemudian, sesuai dengan standart, mereka sampai di ketinggian 1500 m dpl, pos II kokopan. Jam 04.30 pagi, tepat saat matahari terbit, mereka beristirahat di pos II, memasak perbekalan dan kembali mengumpulkan tenaga. Mereka baru sadar mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos II ini. Pemandangan di pos ini sangat indah, tepat menghadap ke timur, saat matahari terbit, dari tempat ini tampak jelas pemandangan Pandaan, Porong dan Bangil lengkap dengan kubangan lumpur yang terus mengeluarkan asap yang sering disebut sebagai lumpur lapindo. Di belakang camping ground pos II ini, ada sumber air jernih yang melimpah ruah sebagai persediaan untuk para pendaki. Itulah alasan mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos ini, pemandangan yang indah dan sumber air yang melimpah ruah akan membuat pendaki malas untuk melanjutkan pendakian selanjutnya. Di pos ini mereka bertemu seorang pendaki solo asal Pandaan bernama Mas Dirman. Sambil menyantap sarapan pagi, menikmati pemandangan Pandaan dari ketinggian yang indah di depan api unggun yang mulai menjadi bara, mereka menyempatkan diri mengobrol dengan Mas Dirman. Ternyata Mas Dirman mengamini saran petugas di base camp pendakian untuk tidak mendirikan camp di pos II kokopan ini dan pos III pondokan. Pos III pondokan adalah tempat para penambang belerang di Gunung Welirang, disana banyak ditemukan gubug-gubug tempat tinggal para penambang belerang, dan mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah dengan kedatangan pendaki. Sering terdengar kabar banyak pendaki yang kehilangan barang ketika mendirikan camp di pos III pondokan karena dicuri para penambang belerang, tak jarang juga mereka mengambil dengan paksa. Sebelum melakukan pendakian ini, tim ekspedisi Kicita sudah membaca beberapa referensi dari buku petualangan dan dokumentasi pendakian gunung-gunung di Indonesia, tetapi untuk mengantisipasi kemungkinan ada bagian tertentu di lapangan yang tidak ditulis di dalam referensi, sosialisasi masyarakat sekitar tetap perlu dilakuakan, tujuannya untuk mendapatkan informasi yang akurat dan up date. Dari buku ‘Jejak Sang Petualang’ karya Harry Wijaya, mereka memperoleh informasi berharga, bahwa pambunuh nomor 1 di gunung Arjuna adalah badai. Puncak Gunung Arjuna selalu terselimuti kabut tebal sepanjang hari yang sewaktu-waktu bisa menjadi badai. Kesimpulannya, mereka harus sebisa mungkin menghindari badai Gunung Arjuna. Jam 07.00, tak ingin terus berlarut-larut di pos II, mereka melanjutkan pendakian. Selepas dari pos II, mereka memasuki kawasan hutan angker alas lali jiwa (hutan lupa diri), konon katanya di tempat inilah banyak pendaki yang hilang ingatan. Rutenya panjang, lurus menanjak dengan vegetasi pinus dan bunga lavender. Jalan tanah licin, kering dan rapuh, ketika diinjak akan mengepulkan debu yang bisa mengganggu pernafasan, pada awalnya ketika memasuki kawasan ini akan terpesona dengan keindahannya, tetapi semakin lama akan bosan karena trek yang monoton, panjang dan melelahkan, pendaki yang kurang berpengalaman akan mengeluh ‘kok nggak sampe-sampe sih?’, menjadi binging dan putus asa, itulah alasan logis mengapa kawasan hutan ini sering disebut alas lali jiwa. Beberapa kali mereka harus berhenti, beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Karena jalan yang berdebu, mereka memutuskan untuk menjaga jarak beberapa meter antara satu dengan yang lain, jarak yang dekat akan merugikan anggota tim pendakian yang di belakang karena akan menghisap debu yang mengepul karena tanah diinjak anggota tim di depannya. Lewat tengah hari mereka belum juga sampai di pos III, ini adalah rute paling sulit sepanjang jalur pandakian Gunung Arjuna via Tretes. Keputusasaan mulai menghinggap, fisik mulai drop, belum lagi pikiran mereka diganggu bayang-bayang para penambang belerang yang katanya adalah jenis masyarakat yang tidak ramah terhadap para pendaki, terlintas bayang-bayang kegagalan pendakian. Tapi sebelum mereka benar-benar larut dalam romantisme kegagalan, salah satu anggota tim mulai berdiri dan meyakinkan yang lain, memberikan setetes semangat dan akhirnya demi mengibarkan panji-panji kehormatan, mereka memutuskan untuk merobohkan keterbatasan dan melanjutkan pendakian. Jam 2 siang mereka sampai di ‘neraka’ yang didengung-dengungkan Mas Dirman, pos III Pondokan. Pandangan sengit para penambang belerang menyambut, para penambang berbicara, berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti para pendaki kita, mereka seperti sekelompok perawan di sarang penyamun. Di pos III pondokan ini berdiri berpuluh-puluh gubug penambang belerang tapi para pendaki tidak bisa sembarangan menginap atau sekedar masuk di dalam gubug karena mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah. Di pos ini ada 2 percabangan, ke kanan adalah rute menuju puncak Gunung Welirang dan percabangan ke kiri adalah rute menuju puncak Gunung Arjuna. Tak ingin membuang waktu, mereka langsung melanjutkan pendakian. Selepas pos ini, rute relatif datar, tidak terlalu berat dengan vegetasi hutan pinus dan semak setinggi di atas kepala, kali ini trek tidak lagi tanah berdebu, cukup kering dan bersahabat. Bonus ! Sesuai dengan instruksi Mas Dirman, mereka harus meloncati beberapa batang pohon tumbang yang merintang di tengah jalan untuk sampai di lembah kidang, “Jangan mengikuti rute ke kiri saat menemui pohon tumbang karena jalur itu akan menyesatkan pendaki ke lembah babi.” Begitu penuturan Mas Dirman. Sekitar jam 3 sore, mereka sampai di lembah kidang, kawasan batas vegetasi hutan pinus dengan padang rumput yang indah, tim ekspedisi Kicita mendirikan camp II di lembah kidang di ketinggian 2250 m dpl. Tempat ini memang bukan pos pendakian atau camping ground, tapi di tempat ini bisa ditemukan sumber air dan tanah datar untuk mendirikan camp. Tempat ini adalah pilihan terakhir untuk mendirikan camp karena selepas tempat ini akan jarang ditemui pohon tinggi sehingga tekanan angin akan sangat kuat yang akan menyulitkan aktifitas pendaki. Dari tempat ini pula terlihat puncak Gunung Arjuna dikelilingi tebing-tebing batu yang berdiri angkuh, sesekali puncak tertutup kabut tipis. Tepat saat petang, sekelompok pendaki Santa Pala Jember datang, mereka juga hendak melakukan summit attack (penyergapan puncak) dari lembah kidang. Mereka datang agak terlambat karena tersesat sampai ke lembah babi. Tidak lama setelah kedatangan mereka, datang lagi 4 pendaki dari Gresik, mereka baru saja turun dari puncak. Malam hari, di depan api unggun, tim ekspedisi Kicita menyusun lagi strategi summit attack esok hari. Rencana awalnya mereka akan melakukan summit attack sekitar jam 2 dini hari agar bisa menyaksikan sunrise di puncak esok hari, tetapi pertemuan dengan Santa Pala Jember, sedikit banyak merubah strategi. Dari penuturan seorang anggota Santa Pala yang sudah berpengalaman, mereka mendapatkan gambaran bahwa rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, treknya juga bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi juga bervariasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Akhirnya, dengan pertimbangan keamanan dan kurangnya pengalaman, tim pendaki Kicita memutuskan untuk memilih alternatif yang lebih realistis, mereka akan bergabung dengan pendaki Santa Pala untuk melakukan summit attack esok hari. Keterbatasan informasi dalam referensi bisa ditutupi dengan sosialisasi, bertanya pada pendaki lain atau masyarakat sekitar.
Pagi hari, reselting tenda terbuka, api unggun menyisakan bara. Kabut tipis tersibak perlahan ketika sinar-sinar matahari mulai turun serupa jembatan cahaya dari langit. Puncak yang dikelilingi tebing-tebing terjal terlihat semakin gagah menantang. Ransel, air minum, makanan ringan, bendera panji-panji dan kamera telah siap. Setelah menyantap sarapan pagi, tim ekspedisi Kicita yang begabung dengan tim pendaki Santa Pala telah siap melakukan summit attack. Benar saja, apa yang dituturkan seorang pendaki dalam kelompok Santa Pala benar-benar mereka alami, rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit bahkan semakin lama semakin sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, trek bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Beberapa kali mereka berhenti, beristirahat dan kembali mendaki lagi, semakin tinggi, udara semakin tipis, angin semakin kencang, semakin dingin dan semakin sulit, ditambah lagi kabut yang datang mengaburkan pandangan. Jam 11.30, mereka disuguhi trek pasir berkerikil menanjak sampai 60 derajat, untuk mendakinya, mereka benar-benar harus merangkak tidak hanya menggunakan kaki tapi juga kedua tangan, sudah sangat jarang tumbuhan yang hidup di daerah ini, hanya beberapa pohon manisrejo yang tumbuh jarang dan berjauhan. Harap berhati-hati saat memasuki kawasan ini karena di kanan dan kiri terdapat jurang yang tertutup kabut sehingga sulit terlihat. Setelah melewati kawasan ini, mereka sampai di sebuah puncak semu dengan batu-batu berserakan, kabut masih tebal menyelimuti. Di kawasan ini ada beberapa in memoriam beberapa pendaki yang meninggal saat mendaki Gunung Arjuna. Pasar Dieng. Dari tempat ini puncak Gunung Arjuna sudah terlihat namun jangan dikira pendakian akan lebih mudah, jalan dari pasar dieng menuju puncak Gunung Arjuna seperti jembatan pasir berkerikil dengan jurang terjal tertutup kabut di kanan dan kirinya. Perlu kehati-hatian dan tenaga ekstra untuk melewati trek terakhir menuju puncak ini. Jika kaki tidak kuat menapak bersiap-siaplah untuk terbawa angin, masih untung jatuh tersungkur di tanah pasir berkerikil tajam daripada masuk ke jurang, jatuh dari tebing di sisi kanan dan kiri rute. Angin tiba-tiba datang, kencang menerjang, mereka berhenti menguatkan kaki agar tidak terbang terbawa angin. Bahkan ada beberapa pendaki yang tiarap untuk menghindari terjangan angin. Malam selalu lebih pekat sebelum fajar tiba, sebelum sampai ke puncak memang selalu terasa lebih berat. Cipeng yang berjalan paling belakang terlihat berhenti saat angin mulai reda dan anggota tim yang lain sudah mulai berjalan, ternyata matanya yang tidak terlindungi kacamata kemasukan butir-butir pasir yang terbawa angin, dia sempat tertunduk lesu. Tapi setelah mendengar seseorang berteriak kegirangan saat berhasil menjejak puncak, dia bangkit lagi, semangatnya membara lagi. Puncak sudah dekat, hanya tinggal beberapa puluh meter saja.
Tengah hari, tim ekspedisi Kicita sampai di tempat dengan batu-batu besar berserakan, bertumpukan tak beraturan. Batu-batu yang menjadi media vandalisme para pendaki. Kabut sangat tebal menyelimuti hingga mengganggu pengelihatan. Rasanya seperti berada di negeri awan kapas putih, sejauh mata memandang hanya ada warna putih gelap. Rasa haru, mengharu biru menderu, ada beberapa kelompok pendaki yang juga sudah sampai di tempat itu, mereka tampak bersuka cita, berteriak puas melepas lelah sambil mengambil gambar. Setelah melalui pendakian yang panjang dan melelahkan, tertatih-tatih akhirnya 28 Juni 2007, sekitar jam 12.10, panji-panji Kicita berkibar di puncak ogal-agil, Gunung Arjuna 3339 m dpl. Puncak tertinggi Gunung Arjuna ini disebut puncak ogal-agil karena ada batu yang sering ogal-agil (bergoyang-goyang sendiri), saking kencangnya angin bertiup.
Perjalanan turun tidak kalah menantang dan melelahkan. Titik-titik air mulai turun menetes, langit seakan memberi peringatan akan turunnya hujan. Tak ingin terjebak badai di ketinggian, mereka memutuskan segera turun. Seorang pendaki berpengalaman yang saat itu juga berada di puncak berteriak memberi peringatan pada yang lain, “Cepat turun, mau ada badai !” Langit seakan hampir runtuh, puncak itu berada dalam kurungan kabut gelap yang segera berubah menjadi hujan badai karena tekanan udara dan angin yang kencang. Sontak para pendaki segera berlari secepat mungkin, badai Gunung Arjuna terkenal ganas. Sendi-sendi yang soak menjadi senjata utama untuk turun gunung, tangan-tangan telanjang menjadi rem dengan menyangkutkannya pada pepohonan, semak dan rumput ilalang. Rasa lelah, kantuk dan sakit benar-benar dihiraukan, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana bisa turun secepat mungkin, dan caranya adalah dengan berlari. Koceng dan Bremi yang masih punya sisa tenaga lebih, berlari di depan jauh meninggalkan yang lain. Ini adalah strategi, mereka akan sampai di camp II lembah kidang terlebih dahulu, mereka akan segera melakukan packing dan saat anggota tim pendakian yang lain sampai di camp II lembah kidang, bersama-sama mereka sudah siap untuk turun dari ketinggian menghindari pembunuh nomor 1 Gunung Arjuna. Jam 3 sore tim ekspedisi sudah berkumpul di camp II dan bersiap-siap turun meninggalkan ketinggian. Tim pendaki Santa Pala yang juga sudah berada di camp lembah kidang memilih untuk tetap tinggal di lembah kidang karena salah satu anggota tim mereka mengalami cidera. Tanda-tanda badai sudah sangat jelas, kabut turun tiba-tiba, tidak ada angin, dan udara menghangat.
Sesaat setelah mereka meninggalkan camp II di lembah kidang, ketika sampai di kawasan angker alas lali jiwa, badai tiba-tiba menyergap. Angin dan hujan bersekongkol mengoyak seisi hutan. Trek yang awalnya berupa debu kering yang rapuh, kini berubah menjadi sungai lumpur yang meluncur berarus deras karena hujan. Dan sungai lumpur itulah satu-satunya jalan turun. Beberapa kali mereka harus berjuang menjaga agar tidak jatuh tergelincir atau kaki-kaki mereka tertancap ke dalam genangan lumpur. Beberapa kali mereka terjatuh berguling di lumpur. Selama beberapa jam mereka terus turun, beberapa kali berhenti untuk beristirahat, hanya berdiri, mulut-mulut sengaja terbuka ke atas menangkap air-air hujan. Kaki-kaki mereka sampai bergetar hebat meski hanya diam. Lagi-lagi, di lokasi yang sama, mereka terombang-ambing antara selamat dan sekarat. Kantuk, lelah, lapar dan sakit tak lagi dihiraukan. Hari sudah gelap, tapi mereka belum juga sampai di pos II. Pendaki manapun selalu berada di batas nuansa antara cerah dan badai, berhasil dan gagal, selamat dan maut. Dan inilah tebusan untuk sebuah keberhasilan.
Di pos II kokopan. Hujan reda perlahan, meninggalkan genangan air dimana-mana, titik-titik air turun jatuh berguguran menciptakan kecipak kecil setelah menyentuh genangan, beberapa tersangkut di daun pepohonan. Sejak sore hujan badai lebat, hari mulai gelap seiring hujan yang mulai reda. Beberapa tenda masih tertutup rapat, para pendaki di dalamnya memilih untuk tinggal di dalamnya, menyalakan lampu badai dan menyantap hidangan malam itu. Mas Dirman mulai membuka resleting tendanya. Sebelum turun hujan, dia sudah menyiapkan kayu bakar yang dibungkus ponco dan disimpan di teras tendanya agar tidak basah kehujanan. Hujan sudah benar-benar berhenti, api mulai dinyalakan, menggugah pos II kokopan yang semula mati suri karena hujan. Dari kejauhan dia melihat beberapa sorot sinar head lamp bersliweran terhuyung-huyung, semakin lama semakin mendekat dan akhirnya dia melihat 5 pendaki tertatih-tatih turun dari ketinggian, basah kuyub penuh lumpur kedinginan, kaki bergetar, mata mereka memerah. Mas Dirman langsung menyambut mereka, memasukkan barang-barang ke dalam tenda, memasakkan nasi dan kopi. Beberapa anggota beristirahat di dalam tenda miliknya. Mereka berlima adalah tim ekspedisi Kicita.
Satu bulan setelah mereka berlima turun dan kembali ke Madiun. Manto datang ke base camp pencinta alam Kicita sambil membawa selembar surat kabar, Jawa Pos edisi 6 Agustus 2007. Salah satu kolom dalam surat kabar itu bercerita tentang seorang pendaki yang tewas saat mendaki Gunung Arjuna beberapa hari yang lalu.
2 Pendaki Tersesat 4 Hari di Gunung Arjuno, Jatim
Dua pendaki tersesat di Gunung Arjuno, Jawa Timur, sejak Minggu 6 Maret lalu. Mereka diduga tidak mengenal jalur pendakian sehingga tersesat.
Dua pendaki yakni Firma (21), warga Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, dan Johanes Pamungkas Priambodo (26), warga Jalan Hayam Wuruk, Mangli, Kabupaten Jember.
Anggota Tim SAR Nizam Yahya mengatakan, kabar tersesatnya dua pendaki itu diketahui setelah Johanes, mengirim pesan singkat kepada pacarnya.
Dalam isi pesan tersebut, Johanes mengabarkan kalau dirinya dan Firman tersesat di Lereng Gunung Arjuno. Namun setelah dicari, posisi dua pendaki gunung sudah bergerak ke arah mendekati puncak Gunung Arjuno sehingga menyulitkan pencarian.
Setelah dilakukan penyisiran, tim yang berjumlah 24 orang akhirnya menemukan dua pemuda tersebut dalam kondisi selamat pada Rabu 9 Maret kemarin. Tim sempat kesulitan untuk melakukan evakuasi.
Dua pendaki yakni Firma (21), warga Kelurahan Bandulan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, dan Johanes Pamungkas Priambodo (26), warga Jalan Hayam Wuruk, Mangli, Kabupaten Jember.
Anggota Tim SAR Nizam Yahya mengatakan, kabar tersesatnya dua pendaki itu diketahui setelah Johanes, mengirim pesan singkat kepada pacarnya.
Dalam isi pesan tersebut, Johanes mengabarkan kalau dirinya dan Firman tersesat di Lereng Gunung Arjuno. Namun setelah dicari, posisi dua pendaki gunung sudah bergerak ke arah mendekati puncak Gunung Arjuno sehingga menyulitkan pencarian.
Setelah dilakukan penyisiran, tim yang berjumlah 24 orang akhirnya menemukan dua pemuda tersebut dalam kondisi selamat pada Rabu 9 Maret kemarin. Tim sempat kesulitan untuk melakukan evakuasi.
Gunung Arjuno
Di balik komplek kami tinggal, terdapat pemandangan apik. Yaitu Gunung Arjuno
Meskipun belum pernah ke sana, dengan melihat view dan membaca seluk beluknya, insyaAllah cukup mengobati rasa penasaran saya
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna, dalam nama kuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.
Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang – Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
Meskipun belum pernah ke sana, dengan melihat view dan membaca seluk beluknya, insyaAllah cukup mengobati rasa penasaran saya
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna, dalam nama kuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl dan berada di bawah Pengelolaan Tahura Raden Soeryo. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.
Gunung Arjuno bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang. Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang – Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
