Senin, 21 November 2011

Badai Pembunuh Gunung Arjuna

BADAI PEMBUNUH

Laporan Perjalanan

Pendakian Gunung Arjuna 3339 m dpl

Jawa Timur, Indonesia



Para petualang jangan hanya sekedar pergi bertualang, tetapi juga menulis. Bukankah dengan menulis kita bisa bercerita, membagi pengalaman atau membagi ilmu yang kita miliki. Seperti Norman Edwin, Peter Bordman, Doug Scout, Pat Morrow, Reinold Messner, dan yang lain. Tak harus menunggu punya prestasi dulu, mendaki gunung-gunung es dulu, memburu Seven Summits atau 14th Dead Zone untuk menulis cerita pendakian. Cukup meniru bagaimana niat dan semangat mereka untuk bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan, agar keberhasilan itu dapat ditiru orang lain; atau tentang kegagalan, agar kegagalan itu tidak diulang oleh orang lain.

Di mata orang awam, melakukan aktifitas petualangan, terutama mendaki gunung mungkin dianggap sebagai hal yang bodoh karena sengaja menghampiri atau mengakrabi maut. Tapi dilihat dari sudut pandang petualang sendiri, umumnya kegiatan alam bebas didasari oleh rasa keingintahuan manusia untuk mencari atau melihat hal-hal baru. Di dalam ilmu psikologi disebut Ulysses Factor. Ulysses atau Odysseus adalah tokoh dalam mitologi Yunani yang rela meninggalkan kehangatan rumah serta keluarga tercinta hanya untuk memenuhi rasa keingintahuannya. Di dalam pengembaraannya, Ulysses menghadapi banyak merabahaya. Ia bahkan terlibat perang besar Troya dan harus berhadapan dengan Cyclop, raksasa bermata satu yang teramat kejam. Di akhir kisah, Ulysses pulang ke rumah, berkumpul kembali dengan isteri yang selalu setia menunggu kepulangannya. Karena keberanian itu, Ulysses menjadi idola para pemuda Yunani. Ulysses Factor inilah yang menginspirasi para petualang untuk melakukan sebuah perjalanan berharga dan menceritakannya, bukan untuk gagah-gagahaan, pamer kekuatan atau berapa banyak materi yang dihabiskan, tetapi untuk mendorong orang lain untuk ikut bertualang, merasakan getir nadir petualangan, kepuasan dan keindahan alam.


Tinggi Gunung Arjuna adalah 3339 meter di atas permukaan laut, terletak di Kabupaten Malang, Mojokerto dan Pasuruan. Gunung Welirang adalah ‘saudara muda’ Gunung Arjuna yang berada dekat dengan Gunung Arjuna. Untuk mendaki Gunung Welirang, pendaki bisa menggunakan jalur pendakian Gunung Arjuna via tretes dan mengambil percabangan ke arah utara saat sampai di Pos III, Pondokan Gunung Arjuna.


26 Juni 2007, siang hari. 5 anggota Kicita telah sampai di Kota Malang setelah menempuh perjalanan panjang dari Kota Madiun. Mereka adalah Koceng, Kriwul, Cipeng, Manto dan Bremi semuanya adalah anggota dari angkatan ke 24. Rencana awalnya, kelima petualang kita ini akan mengikuti pendakian masal Gunung Semeru yang diadakan oleh Gravel, sebuah kelompok penggiat kegiatan alam bebas sekaligus produsen dan distributor adventure equipment di Kota Malang. Sampai di Unisma, tempat berkumpul peserta yang sudah disepakati, Koceng dan Bremi menghubungi panitia, tidak sampai setengah jam, seorang laki-laki gondrong, berpenampilan khas seorang pendaki gunung datang membawa sebuah kabar baik dan sebuah kabar buruk. Kabar buruknya pendakian masal ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan karena Gunung Semeru meletus dan kabar baiknya, panitia menyediakan tempat menginap bagi mereka, memberi kesempatan kami melihat-lihat tempat produksi dan gravel adventure shop. Panitia mengapresiasi partisipasi mereka karena sangat jarang sebuah kelompok pencinta alam SMA yang berpartisipasi dalam even pendakian seperti itu. Sebagai pelampiasan pendakian yang gagal, panitia menyarankan mereka mengalihkan pendakian ke Gunung Arjuna, dan setelah berbincang-bincang beberapa saat, sekitar jam 3 sore, akhirnya mereka memutuskan untuk langsung bertolak menuju base camp pendakian Gunung Arjuna. Dari Kota Malang para pendaki kita bergerak ke arah utara menyibak jalanan Kota Malang yang ramai oleh lalu lalang kendaraan para pekerja dan mahasiswa. Matahari masih bersinar agak panas di tengah hawa sejuk. Setelah melewati Kecamatan Singasari, Lawang, Purwosari, dan Pandaan, perjalanan diteruskan dengan berbelok ke arah timur jurusan Prigen, menuju kawasan wisata tretes. Jalan semakin menanjak dan hawa semakin dingin setelah kira-kira 1 setengah jam perjalanan. Di kanan dan kiri jalan banyak ditemui penginapan-penginapan kelas melati yang menawarkan layanan ‘plus plus’ bagi pelanggannya. Sebelum sampai di base camp pendakian, mereka berhenti di sebuah minimarket untuk mengisi perbekalan terakhir dan beristirahat sejenak, dari seberang jalan minimarket, keluar 3 wanita berkulit gelap dari sebuah penginapan melati dengan pakaian minim masuk ke dalam minimarket, dari pandangan mereka, kelima pendaki kita langsung tahu profesi mereka. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari sumber yang bisa dipercaya, kawasan tretes adalah kawasan prostitusi terbesar kedua di Jawa Timur dan kawasan judi terbesar pertama yang berkedok kawasan wisata pegunungan. Kawasan ini adalah Las Vegas-nya Jawa Timur.

Base camp pendakian Gunung Arjuna terletak di dekat Hotel Surya, bagi para pendaki yang baru pertama ke tempat ini disarankan untuk sering-sering bertanya karena lokasi base camp pendakian agak tersembunyi dan tidak ada tanda yang menonjol. Selepas magrib, setelah mengurus perijinan di base camp pendakian, kelima pendaki kita langsung melakukan trekking menuju pos I, pet bocor, yang bisa ditempuh selama sekitar 30 menit. Selepas base camp, jalur pendaki langsung memasuki Tahura Surya dengan vegetasi heterogen, Tahura adalah Taman Hutan Raya, nama Surya diambil dari nama Gubernur pertama Jawa Timur, Gubernur Surya. Rute dari base camp menuju pet bocor cukup ringan, tidak terlalu menanjak dengan jalan beraspal dan dilanjutkan jalan tanah berbatu. Setelah melewati camping ground Tahura Surya, mereka sampai di sebuah tanah lapang di sisi kiri route, tempat inilah yang disebut pet bocor. Malam itu mereka memutuskan mendirikan camp I dan bermalam di pos I, mengumpulkan tenaga untuk pendakian esok hari.

Jam 01.00 WIB, Koceng yang pertama terbangun oleh suara alarm, dia mulai membangunkan anggota tim yang lain dan langsung packing. Rencana awalnya, setelah mendirikan camp I di pet bocor, mereka akan mendirikan camp II di lembah kidang, di atas pos III pondokan dan dari camp II lembah kidang inilah mereka akan langsung memburu puncak di pagi hari, mengejar sunrise. Petugas di base camp pendakian menyarankan mereka agar tidak mendirikan camp di pos II kokopan dan pos III pondokan. Jam 01.30, sinar head lamp berseliweran di tengah hutan di antara batang-batang pepohonan, menyibak kabut tipis yang menyelimuti pet bocor, sesekali masih terdengar suara jangkrik yang terus saja berjaga sejak hari menjadi gelap. Selepas pos I, masih di dalam kawasan Tahura Surya, rute semakin menanjak, jalan tanah berbatu dengan vegetasi heterogen. Setelah semalaman beristirahat dan melakukan aklimatisasi (adaptasi terhadap suhu dan lingkungan) yang cukup, mereka benar-benar dalam kondisi fit untuk melakukan pendakian. 3 jam kemudian, sesuai dengan standart, mereka sampai di ketinggian 1500 m dpl, pos II kokopan. Jam 04.30 pagi, tepat saat matahari terbit, mereka beristirahat di pos II, memasak perbekalan dan kembali mengumpulkan tenaga. Mereka baru sadar mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos II ini. Pemandangan di pos ini sangat indah, tepat menghadap ke timur, saat matahari terbit, dari tempat ini tampak jelas pemandangan Pandaan, Porong dan Bangil lengkap dengan kubangan lumpur yang terus mengeluarkan asap yang sering disebut sebagai lumpur lapindo. Di belakang camping ground pos II ini, ada sumber air jernih yang melimpah ruah sebagai persediaan untuk para pendaki. Itulah alasan mengapa petugas di base camp menyarankan mereka untuk tidak mendirikan camp di pos ini, pemandangan yang indah dan sumber air yang melimpah ruah akan membuat pendaki malas untuk melanjutkan pendakian selanjutnya. Di pos ini mereka bertemu seorang pendaki solo asal Pandaan bernama Mas Dirman. Sambil menyantap sarapan pagi, menikmati pemandangan Pandaan dari ketinggian yang indah di depan api unggun yang mulai menjadi bara, mereka menyempatkan diri mengobrol dengan Mas Dirman. Ternyata Mas Dirman mengamini saran petugas di base camp pendakian untuk tidak mendirikan camp di pos II kokopan ini dan pos III pondokan. Pos III pondokan adalah tempat para penambang belerang di Gunung Welirang, disana banyak ditemukan gubug-gubug tempat tinggal para penambang belerang, dan mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah dengan kedatangan pendaki. Sering terdengar kabar banyak pendaki yang kehilangan barang ketika mendirikan camp di pos III pondokan karena dicuri para penambang belerang, tak jarang juga mereka mengambil dengan paksa. Sebelum melakukan pendakian ini, tim ekspedisi Kicita sudah membaca beberapa referensi dari buku petualangan dan dokumentasi pendakian gunung-gunung di Indonesia, tetapi untuk mengantisipasi kemungkinan ada bagian tertentu di lapangan yang tidak ditulis di dalam referensi, sosialisasi masyarakat sekitar tetap perlu dilakuakan, tujuannya untuk mendapatkan informasi yang akurat dan up date. Dari buku ‘Jejak Sang Petualang’ karya Harry Wijaya, mereka memperoleh informasi berharga, bahwa pambunuh nomor 1 di gunung Arjuna adalah badai. Puncak Gunung Arjuna selalu terselimuti kabut tebal sepanjang hari yang sewaktu-waktu bisa menjadi badai. Kesimpulannya, mereka harus sebisa mungkin menghindari badai Gunung Arjuna. Jam 07.00, tak ingin terus berlarut-larut di pos II, mereka melanjutkan pendakian. Selepas dari pos II, mereka memasuki kawasan hutan angker alas lali jiwa (hutan lupa diri), konon katanya di tempat inilah banyak pendaki yang hilang ingatan. Rutenya panjang, lurus menanjak dengan vegetasi pinus dan bunga lavender. Jalan tanah licin, kering dan rapuh, ketika diinjak akan mengepulkan debu yang bisa mengganggu pernafasan, pada awalnya ketika memasuki kawasan ini akan terpesona dengan keindahannya, tetapi semakin lama akan bosan karena trek yang monoton, panjang dan melelahkan, pendaki yang kurang berpengalaman akan mengeluh ‘kok nggak sampe-sampe sih?’, menjadi binging dan putus asa, itulah alasan logis mengapa kawasan hutan ini sering disebut alas lali jiwa. Beberapa kali mereka harus berhenti, beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Karena jalan yang berdebu, mereka memutuskan untuk menjaga jarak beberapa meter antara satu dengan yang lain, jarak yang dekat akan merugikan anggota tim pendakian yang di belakang karena akan menghisap debu yang mengepul karena tanah diinjak anggota tim di depannya. Lewat tengah hari mereka belum juga sampai di pos III, ini adalah rute paling sulit sepanjang jalur pandakian Gunung Arjuna via Tretes. Keputusasaan mulai menghinggap, fisik mulai drop, belum lagi pikiran mereka diganggu bayang-bayang para penambang belerang yang katanya adalah jenis masyarakat yang tidak ramah terhadap para pendaki, terlintas bayang-bayang kegagalan pendakian. Tapi sebelum mereka benar-benar larut dalam romantisme kegagalan, salah satu anggota tim mulai berdiri dan meyakinkan yang lain, memberikan setetes semangat dan akhirnya demi mengibarkan panji-panji kehormatan, mereka memutuskan untuk merobohkan keterbatasan dan melanjutkan pendakian. Jam 2 siang mereka sampai di ‘neraka’ yang didengung-dengungkan Mas Dirman, pos III Pondokan. Pandangan sengit para penambang belerang menyambut, para penambang berbicara, berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti para pendaki kita, mereka seperti sekelompok perawan di sarang penyamun. Di pos III pondokan ini berdiri berpuluh-puluh gubug penambang belerang tapi para pendaki tidak bisa sembarangan menginap atau sekedar masuk di dalam gubug karena mereka adalah jenis masyarakat yang tidak ramah. Di pos ini ada 2 percabangan, ke kanan adalah rute menuju puncak Gunung Welirang dan percabangan ke kiri adalah rute menuju puncak Gunung Arjuna. Tak ingin membuang waktu, mereka langsung melanjutkan pendakian. Selepas pos ini, rute relatif datar, tidak terlalu berat dengan vegetasi hutan pinus dan semak setinggi di atas kepala, kali ini trek tidak lagi tanah berdebu, cukup kering dan bersahabat. Bonus ! Sesuai dengan instruksi Mas Dirman, mereka harus meloncati beberapa batang pohon tumbang yang merintang di tengah jalan untuk sampai di lembah kidang, “Jangan mengikuti rute ke kiri saat menemui pohon tumbang karena jalur itu akan menyesatkan pendaki ke lembah babi.” Begitu penuturan Mas Dirman. Sekitar jam 3 sore, mereka sampai di lembah kidang, kawasan batas vegetasi hutan pinus dengan padang rumput yang indah, tim ekspedisi Kicita mendirikan camp II di lembah kidang di ketinggian 2250 m dpl. Tempat ini memang bukan pos pendakian atau camping ground, tapi di tempat ini bisa ditemukan sumber air dan tanah datar untuk mendirikan camp. Tempat ini adalah pilihan terakhir untuk mendirikan camp karena selepas tempat ini akan jarang ditemui pohon tinggi sehingga tekanan angin akan sangat kuat yang akan menyulitkan aktifitas pendaki. Dari tempat ini pula terlihat puncak Gunung Arjuna dikelilingi tebing-tebing batu yang berdiri angkuh, sesekali puncak tertutup kabut tipis. Tepat saat petang, sekelompok pendaki Santa Pala Jember datang, mereka juga hendak melakukan summit attack (penyergapan puncak) dari lembah kidang. Mereka datang agak terlambat karena tersesat sampai ke lembah babi. Tidak lama setelah kedatangan mereka, datang lagi 4 pendaki dari Gresik, mereka baru saja turun dari puncak. Malam hari, di depan api unggun, tim ekspedisi Kicita menyusun lagi strategi summit attack esok hari. Rencana awalnya mereka akan melakukan summit attack sekitar jam 2 dini hari agar bisa menyaksikan sunrise di puncak esok hari, tetapi pertemuan dengan Santa Pala Jember, sedikit banyak merubah strategi. Dari penuturan seorang anggota Santa Pala yang sudah berpengalaman, mereka mendapatkan gambaran bahwa rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, treknya juga bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi juga bervariasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Akhirnya, dengan pertimbangan keamanan dan kurangnya pengalaman, tim pendaki Kicita memutuskan untuk memilih alternatif yang lebih realistis, mereka akan bergabung dengan pendaki Santa Pala untuk melakukan summit attack esok hari. Keterbatasan informasi dalam referensi bisa ditutupi dengan sosialisasi, bertanya pada pendaki lain atau masyarakat sekitar.

Pagi hari, reselting tenda terbuka, api unggun menyisakan bara. Kabut tipis tersibak perlahan ketika sinar-sinar matahari mulai turun serupa jembatan cahaya dari langit. Puncak yang dikelilingi tebing-tebing terjal terlihat semakin gagah menantang. Ransel, air minum, makanan ringan, bendera panji-panji dan kamera telah siap. Setelah menyantap sarapan pagi, tim ekspedisi Kicita yang begabung dengan tim pendaki Santa Pala telah siap melakukan summit attack. Benar saja, apa yang dituturkan seorang pendaki dalam kelompok Santa Pala benar-benar mereka alami, rute dari lembah kidang menuju puncak relatif sulit bahkan semakin lama semakin sulit, banyak percabangan yang menyesatkan, trek bervariasi, mulai dari tanah kering, berkerikil, melewati batu-batu besar sampai lapang yang tidak terlihat jalan setapaknya. Trek mulai datar sampai tanjakan terjal dengan kemiringan sampai 60 derajat. Vegetasi mulai dari padang rumput, taman bunga edlewess dan lavender, puing-puing hutan pinus sampai hamparan batu kerikil yang panas dan gersang. Beberapa kali mereka berhenti, beristirahat dan kembali mendaki lagi, semakin tinggi, udara semakin tipis, angin semakin kencang, semakin dingin dan semakin sulit, ditambah lagi kabut yang datang mengaburkan pandangan. Jam 11.30, mereka disuguhi trek pasir berkerikil menanjak sampai 60 derajat, untuk mendakinya, mereka benar-benar harus merangkak tidak hanya menggunakan kaki tapi juga kedua tangan, sudah sangat jarang tumbuhan yang hidup di daerah ini, hanya beberapa pohon manisrejo yang tumbuh jarang dan berjauhan. Harap berhati-hati saat memasuki kawasan ini karena di kanan dan kiri terdapat jurang yang tertutup kabut sehingga sulit terlihat. Setelah melewati kawasan ini, mereka sampai di sebuah puncak semu dengan batu-batu berserakan, kabut masih tebal menyelimuti. Di kawasan ini ada beberapa in memoriam beberapa pendaki yang meninggal saat mendaki Gunung Arjuna. Pasar Dieng. Dari tempat ini puncak Gunung Arjuna sudah terlihat namun jangan dikira pendakian akan lebih mudah, jalan dari pasar dieng menuju puncak Gunung Arjuna seperti jembatan pasir berkerikil dengan jurang terjal tertutup kabut di kanan dan kirinya. Perlu kehati-hatian dan tenaga ekstra untuk melewati trek terakhir menuju puncak ini. Jika kaki tidak kuat menapak bersiap-siaplah untuk terbawa angin, masih untung jatuh tersungkur di tanah pasir berkerikil tajam daripada masuk ke jurang, jatuh dari tebing di sisi kanan dan kiri rute. Angin tiba-tiba datang, kencang menerjang, mereka berhenti menguatkan kaki agar tidak terbang terbawa angin. Bahkan ada beberapa pendaki yang tiarap untuk menghindari terjangan angin. Malam selalu lebih pekat sebelum fajar tiba, sebelum sampai ke puncak memang selalu terasa lebih berat. Cipeng yang berjalan paling belakang terlihat berhenti saat angin mulai reda dan anggota tim yang lain sudah mulai berjalan, ternyata matanya yang tidak terlindungi kacamata kemasukan butir-butir pasir yang terbawa angin, dia sempat tertunduk lesu. Tapi setelah mendengar seseorang berteriak kegirangan saat berhasil menjejak puncak, dia bangkit lagi, semangatnya membara lagi. Puncak sudah dekat, hanya tinggal beberapa puluh meter saja.

Tengah hari, tim ekspedisi Kicita sampai di tempat dengan batu-batu besar berserakan, bertumpukan tak beraturan. Batu-batu yang menjadi media vandalisme para pendaki. Kabut sangat tebal menyelimuti hingga mengganggu pengelihatan. Rasanya seperti berada di negeri awan kapas putih, sejauh mata memandang hanya ada warna putih gelap. Rasa haru, mengharu biru menderu, ada beberapa kelompok pendaki yang juga sudah sampai di tempat itu, mereka tampak bersuka cita, berteriak puas melepas lelah sambil mengambil gambar. Setelah melalui pendakian yang panjang dan melelahkan, tertatih-tatih akhirnya 28 Juni 2007, sekitar jam 12.10, panji-panji Kicita berkibar di puncak ogal-agil, Gunung Arjuna 3339 m dpl. Puncak tertinggi Gunung Arjuna ini disebut puncak ogal-agil karena ada batu yang sering ogal-agil (bergoyang-goyang sendiri), saking kencangnya angin bertiup.


Perjalanan turun tidak kalah menantang dan melelahkan. Titik-titik air mulai turun menetes, langit seakan memberi peringatan akan turunnya hujan. Tak ingin terjebak badai di ketinggian, mereka memutuskan segera turun. Seorang pendaki berpengalaman yang saat itu juga berada di puncak berteriak memberi peringatan pada yang lain, “Cepat turun, mau ada badai !” Langit seakan hampir runtuh, puncak itu berada dalam kurungan kabut gelap yang segera berubah menjadi hujan badai karena tekanan udara dan angin yang kencang. Sontak para pendaki segera berlari secepat mungkin, badai Gunung Arjuna terkenal ganas. Sendi-sendi yang soak menjadi senjata utama untuk turun gunung, tangan-tangan telanjang menjadi rem dengan menyangkutkannya pada pepohonan, semak dan rumput ilalang. Rasa lelah, kantuk dan sakit benar-benar dihiraukan, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana bisa turun secepat mungkin, dan caranya adalah dengan berlari. Koceng dan Bremi yang masih punya sisa tenaga lebih, berlari di depan jauh meninggalkan yang lain. Ini adalah strategi, mereka akan sampai di camp II lembah kidang terlebih dahulu, mereka akan segera melakukan packing dan saat anggota tim pendakian yang lain sampai di camp II lembah kidang, bersama-sama mereka sudah siap untuk turun dari ketinggian menghindari pembunuh nomor 1 Gunung Arjuna. Jam 3 sore tim ekspedisi sudah berkumpul di camp II dan bersiap-siap turun meninggalkan ketinggian. Tim pendaki Santa Pala yang juga sudah berada di camp lembah kidang memilih untuk tetap tinggal di lembah kidang karena salah satu anggota tim mereka mengalami cidera. Tanda-tanda badai sudah sangat jelas, kabut turun tiba-tiba, tidak ada angin, dan udara menghangat.

Sesaat setelah mereka meninggalkan camp II di lembah kidang, ketika sampai di kawasan angker alas lali jiwa, badai tiba-tiba menyergap. Angin dan hujan bersekongkol mengoyak seisi hutan. Trek yang awalnya berupa debu kering yang rapuh, kini berubah menjadi sungai lumpur yang meluncur berarus deras karena hujan. Dan sungai lumpur itulah satu-satunya jalan turun. Beberapa kali mereka harus berjuang menjaga agar tidak jatuh tergelincir atau kaki-kaki mereka tertancap ke dalam genangan lumpur. Beberapa kali mereka terjatuh berguling di lumpur. Selama beberapa jam mereka terus turun, beberapa kali berhenti untuk beristirahat, hanya berdiri, mulut-mulut sengaja terbuka ke atas menangkap air-air hujan. Kaki-kaki mereka sampai bergetar hebat meski hanya diam. Lagi-lagi, di lokasi yang sama, mereka terombang-ambing antara selamat dan sekarat. Kantuk, lelah, lapar dan sakit tak lagi dihiraukan. Hari sudah gelap, tapi mereka belum juga sampai di pos II. Pendaki manapun selalu berada di batas nuansa antara cerah dan badai, berhasil dan gagal, selamat dan maut. Dan inilah tebusan untuk sebuah keberhasilan.


Di pos II kokopan. Hujan reda perlahan, meninggalkan genangan air dimana-mana, titik-titik air turun jatuh berguguran menciptakan kecipak kecil setelah menyentuh genangan, beberapa tersangkut di daun pepohonan. Sejak sore hujan badai lebat, hari mulai gelap seiring hujan yang mulai reda. Beberapa tenda masih tertutup rapat, para pendaki di dalamnya memilih untuk tinggal di dalamnya, menyalakan lampu badai dan menyantap hidangan malam itu. Mas Dirman mulai membuka resleting tendanya. Sebelum turun hujan, dia sudah menyiapkan kayu bakar yang dibungkus ponco dan disimpan di teras tendanya agar tidak basah kehujanan. Hujan sudah benar-benar berhenti, api mulai dinyalakan, menggugah pos II kokopan yang semula mati suri karena hujan. Dari kejauhan dia melihat beberapa sorot sinar head lamp bersliweran terhuyung-huyung, semakin lama semakin mendekat dan akhirnya dia melihat 5 pendaki tertatih-tatih turun dari ketinggian, basah kuyub penuh lumpur kedinginan, kaki bergetar, mata mereka memerah. Mas Dirman langsung menyambut mereka, memasukkan barang-barang ke dalam tenda, memasakkan nasi dan kopi. Beberapa anggota beristirahat di dalam tenda miliknya. Mereka berlima adalah tim ekspedisi Kicita.


Satu bulan setelah mereka berlima turun dan kembali ke Madiun. Manto datang ke base camp pencinta alam Kicita sambil membawa selembar surat kabar, Jawa Pos edisi 6 Agustus 2007. Salah satu kolom dalam surat kabar itu bercerita tentang seorang pendaki yang tewas saat mendaki Gunung Arjuna beberapa hari yang lalu.

0 komentar:

Posting Komentar