Januari 2007 adalah pertama kalinya aku mendapati puncak pertamaku di ketinggian 3.339 mdpl, puncak gunung Arjuna. Gunung Arjuna adalah gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah gunung Semeru. Perasaan senang sekaligus takut menghinggapi jiwaku kala itu.
Namun rasa takut sekejap hilang karena aku tidak sendiri. Aku mendaki bersama "dulur" atau saudara dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghinggapi jiwa maupun raga. Memang benar kata orang-orang yang telah berpengalaman, dibutuhkan fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat mendaki sebuah gunung. Kami saling menyemangati.
Memasak di Kop-kopan
Perjalanan dimulai dari sekretariat PLH SIKLUS ITS di Sukolilo Surabaya pada tanggal 01 Januari 2007. Sesampainya di Tretes, Malang, kita menitipkan sepeda motor di pos pendakian dan segera mendaki malam itu juga. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat Pos dan pipa air minum.
Di Pos tersebut kita dapat membeli makanan seperti mie dan teh hangat. Sekitar pukul 22.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita juga dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat, kopi, dan mie. Disini juga terdapat WC yang masih sangat tradisional, hanya berupa ruangan kayu bertirai dan batu berlubang.
Perjalanan melewati makadam (jalan berbatu)
Istirahat sejenak dalam perjalanan
Esok harinya kita meneruskan perjalanan menuju pondokan. Terdapat beberapa sumber air selama jalur perjalanan ini, namun untuk berjaga-jaga kita tetap berhemat. Selama perjalanan di bawah terik matahari, berkali-kali Aku merasa dehidrasi dan kehabisan tenaga. Bahkan beberapa kali langkahku jauh tertinggal dari kelompokku.
Sempat terlintas dibenakku untuk tidak melanjutkan perjalanan. Aku juga sempat membuat sumpah serapah dalam hati bahwa ini pendakian terakhirku. Untung ada seniorku yang terus menyemangati dan menunggu langkahku dengan sabar. Alhasil, sampai sekarang justru aku ketagihan dengan kegiatan pendakian.
Gubuk penambang belerang
Sore harinya kita sampai di Pondokan dan segera memasang tenda serta memasak. Udara teramat dingin, cukup membuat kami menggigil. Di Pondokan ini banyak gubuk kecil yang merupakan tempat tinggal sementara para penambang belerang.
Disini kita patut berhati-hati dalam menjaga tenda kita karena banyak pencuri yang biasanya suka mencuri bahan makanan kita. Di Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang. Di Daerah ini juga terdapat sumber air serta semacam tempat khusus untuk buang air.
Lembah Kidang
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno. Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak.
Setelah melewati Lembah Kidang, kita akan melewati daerah yang mirip dengan Lembah Kidang namun terdapat banyak bebatuan disebut Pasar Setan. Sejumlah pendaki mengaku pernah menjumpai semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah di tempat ini. Namun, konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka.
Foto bersama anggota GMC UI
Dalam perjalanan menuju puncak Arjuno, kita bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Para bule tersebut kebanyakan diantar oleh porter dan guide dengan rambutnya yang gimbal dan gondrong. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa jurusan Geografi UI yang tergabung dalam Geographical Mountaneering Club (GMC) UI. mereka sempat membagi minuman kepada kami disaat persediaan minum kami mulai menipis. Terimakasih Bang :).
3.339 mdpl
Sampai juga kami di puncak. Tidak ada tanaman apapun di puncak ini, yang ada hanya bebatuan yang cukup besar. Puncak Arjuno merupakan puncak triangulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan puncak sebenarnya. Saat berada di puncak kita harus berhati-hati karena tepi bebatuan merupakan tebing. Konon katanya pernah ada pendaki yang meninggal karena terjatuh di tepi bebatuan tersebut.
Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.
Tempat di Indonesia yang paling keren dan wajib di kunjungi untuk Adventure menurut penulis. :
Pulau Irian Jaya (Papua), alasannya.Saya ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari kehidupan masyarakat di Papua mulai dari kehidupan kota sampai suku-suku primitif di pedalaman. Bisa berkomunikasi dengan suku primitif disana tentu sangat menyenangkan, Saya ingin melihat sisi lain kehidupan dari mereka. Saya ingin mempelajari kebudayaan hingga adat istiadat yang ada disana. Saya ingin melihat secara nyata kondisi lingkungan di Papua mulai dari hutan rimbanya, pantai, lautan, hingga gunung yang menjulang. Singkat kata, Saya ingin keliling Papua untuk mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan alam Indonesiaku tercinta.

0 komentar:
Posting Komentar