Saat itu aku masih duduk di kelas 2 smk di singosari,saat liburan aku bersama temanku berencana pergi ke puncak gunung arjuna,saat melewati perkebunan wonosari pemandangannya begitu indah,memandang luas kebun teh yang hijau.
sehari telah terlewati saya bermalam di padang rumput yang ketinggiannya 1500m diatas permukaan laut.Setelah hari mulai siang saya melanjutkan perjalanan, sesampai di bibir hutan lali jiwo aku merasakan pemandangan yang tidak biasa aku lihat.tampak pohon-pohon yang kokoh tapi tampak suram karena tidak ada satu pun dahan daun yang tumbuh, kulit kayu yang tampak terselimuti lumut-lumut hijau.
Aku coba memberanikan diri melewati hutan tersebut,aku dan teman-teman memakai seutas tali untuk di ikatkan di tubuh kami,karena menurut cerita-cerita orang banyak orang hilang di hutan tersebut.setelah kami berjalan hampir setengah kilo saya sudah sebanyak 3 kali jatuh,bayangkan saja selama perjalan saya belum sekalipun jatuh.dengan membawa beban tas yang berat, badanku rasanya remuk sekali saat melintasi kawasan hutan itu,sungguh pengalaman yang mengerikan...banyak hal-hal aneh yang kami lintasi,seperti ada yang mengawasi perjalanan kami.
tapi setelah melewati tantangan tersebut akhirnya kami sampai di puncak arjuna,begitu indah dengan bebatuan yang besar-besar di atas puncak arjuna.sungguh pengalaman yang indah.
Senin, 21 November 2011
Wisata Budaya Menuju Puncak Gunung Arjuna
Berhimpun dengan alam, adalah salah satu kegiatanku untuk memanfaatkan momen liburan semester di kampus yang cuma seminggu. Kali ini, spot alam yang kupilih adalah Gunung Arjuna terletak di sebelah utara Kota Malang-Jawa Timur. Perjalanan menuju puncak Arjuna ini kutempuh bersama teman-teman organisasi YEPE, Tim Pendaki Gunung dan Penjelajah Alam yang berada di Kota Malang.
Untuk mencapai puncak gunung yang memiliki tinggi 3337 mdpl ini, ada 6 pilihan jalur alternatif. Tapi kali ini kami memilih jalur Purwosari yang terkenal dengan jalur bersitus sejarah.
Berangkat dari desa Tambakwatu- Purwosari, kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dengan berjalan kaki melewati bebatuan dan membelah hutan pinus, kami melewati gapura situs sejarah Gua Ontoboego. Konon katanya dulu adalah tempat persembunyian pasukan Jepang.
Satu jam perjalanan dari gapura, kami mendapati anak tangga yang akhirnya menghantarkan kami ke pos Eyang Sekutrem. Nama wilayah ini memang Eyang Sekutrem, entah darimana nama ini diberikan. Disini, para pendaki biasa mengisi air untuk bekal ke pos selanjutnya.
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
Puas melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Vegetasi di sepanjang jalan mulai berubah, dari jenis pohon-pohon tinggi menjulang menjadi rimbunan tanaman se-paha. Tiga puluh menit perjalanan, kami memasuki kawasan hutan dan lagi-lagi menemukan situs sejarah yang cukup unik. Bangunan gubuk yang sepertinya dipakai untuk tempat ibadah dengan gapura bambu yang bertuliskan aksara jawa. Kami sempat merinding ketika berhenti di depan gapura untuk rehat sejenak.
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
Eyang Semar, menjadi pos selanjutnya. Disini terdapat rumah kayu tempat istirahat para pendaki maupun penduduk yang mencari kayu. Tidak lama kami rehat disini, perjalanan langsung tancap gas menuju pos terakhir untuk bermalam.
Makutarama. menjadi pos ketiga kami untuk bermalam. Lahan tempat kami mendirikan tenda bersebelahan dengan panggung batu yang ternyata tempat pemujaan masyarakat tertentu. Ini kami ketahui ketika pagi hari ada sekumpulan orang yang melakukan ritual menghadap ke patung besar yang terdapat di atas panggung
Pagi yang cerah, menyambut kami untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Puncak Arjuna memang belum tampak, tapi hiburan situs-situs sejarah yang kami temui memberikan wisata sejarah tersendiri disela-sela pendakian menuju puncak.
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
Dari Makutarama, kami harus mendaki jalur berbatu yang di sisi kanan-kirinya terdapat patung-patung batu kecil. Ujung dari jalan berbatu ini adalah Candi Sepilar, sepetak tanah yang terdapat batu-batu tersebar di dalamnya. Mungkin, dulu memang candi, namun sekarang batu-batu penyusunnya sudah banyak yang rapuh. Setelah satu jam, kami menemukan situs sejarah lainnya yaitu berupa batu bertuliskan Jawa Dwipa.
Untuk bermalam di hari kedua, kami memilih tempat yang dinamaiWatu Gede. Bukan apa-apa, tapi karena memang di tempat tersebut terdapat batu yang besar untuk dijadikan tempat perlindungan. Dari dataran Watu Gede ini, kami dapat menikmati indahnya ‘permadani’ awan dan puncak Gunung Semeru di seberang. Wow! Amazing!
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
Situs terakhir yang kami temui keesokan harinya adalah Puncak Arjuna sendiri dan Pasar Setan. Puncak gunung arjuna disebut Ogal Agil karena terdapat batu besar yang bisa bergoyang-goyang. Tapi, karena sifat vandalisme kelompok tertentu, pakdhe (sebutan untuk orang tua) kami di YEPE bercerita bahwa batu besar itu didorong menggelinding ke hutan di bawah puncak sampai terpecah-pecah. Sayang sekali, ya?
Setelah mencapai puncak, kami akan turun kemudian berjalan naik lagi melintasi medan berbatu. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan puncak Gunung Arjuna, namun batu-batu di lokasi ini tersusun lebih rapi dan membentuk alur jalan yang bisa dilewati. Di bawah lokasi inilah mitos tentang Pasar Dieng atau Pasar Setan itu berada. Jika malam tiba, seoah-olah terdengar gemuruh suara oreng seperti di pasar
Untuk mencapai puncak gunung yang memiliki tinggi 3337 mdpl ini, ada 6 pilihan jalur alternatif. Tapi kali ini kami memilih jalur Purwosari yang terkenal dengan jalur bersitus sejarah.
Berangkat dari desa Tambakwatu- Purwosari, kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Dengan berjalan kaki melewati bebatuan dan membelah hutan pinus, kami melewati gapura situs sejarah Gua Ontoboego. Konon katanya dulu adalah tempat persembunyian pasukan Jepang.
Satu jam perjalanan dari gapura, kami mendapati anak tangga yang akhirnya menghantarkan kami ke pos Eyang Sekutrem. Nama wilayah ini memang Eyang Sekutrem, entah darimana nama ini diberikan. Disini, para pendaki biasa mengisi air untuk bekal ke pos selanjutnya.
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
—
Anak Tangga Menuju Eyang Sekutrem
Puas melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya. Vegetasi di sepanjang jalan mulai berubah, dari jenis pohon-pohon tinggi menjulang menjadi rimbunan tanaman se-paha. Tiga puluh menit perjalanan, kami memasuki kawasan hutan dan lagi-lagi menemukan situs sejarah yang cukup unik. Bangunan gubuk yang sepertinya dipakai untuk tempat ibadah dengan gapura bambu yang bertuliskan aksara jawa. Kami sempat merinding ketika berhenti di depan gapura untuk rehat sejenak.
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
—
Situs sejarah di tengah perjalanan menuju Eyang Semar
Eyang Semar, menjadi pos selanjutnya. Disini terdapat rumah kayu tempat istirahat para pendaki maupun penduduk yang mencari kayu. Tidak lama kami rehat disini, perjalanan langsung tancap gas menuju pos terakhir untuk bermalam.
Makutarama. menjadi pos ketiga kami untuk bermalam. Lahan tempat kami mendirikan tenda bersebelahan dengan panggung batu yang ternyata tempat pemujaan masyarakat tertentu. Ini kami ketahui ketika pagi hari ada sekumpulan orang yang melakukan ritual menghadap ke patung besar yang terdapat di atas panggung
Pagi yang cerah, menyambut kami untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Puncak Arjuna memang belum tampak, tapi hiburan situs-situs sejarah yang kami temui memberikan wisata sejarah tersendiri disela-sela pendakian menuju puncak.
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
—
Jawa Dwipa, batu persegi yang berpahatkan aksara jawa
Dari Makutarama, kami harus mendaki jalur berbatu yang di sisi kanan-kirinya terdapat patung-patung batu kecil. Ujung dari jalan berbatu ini adalah Candi Sepilar, sepetak tanah yang terdapat batu-batu tersebar di dalamnya. Mungkin, dulu memang candi, namun sekarang batu-batu penyusunnya sudah banyak yang rapuh. Setelah satu jam, kami menemukan situs sejarah lainnya yaitu berupa batu bertuliskan Jawa Dwipa.
Untuk bermalam di hari kedua, kami memilih tempat yang dinamaiWatu Gede. Bukan apa-apa, tapi karena memang di tempat tersebut terdapat batu yang besar untuk dijadikan tempat perlindungan. Dari dataran Watu Gede ini, kami dapat menikmati indahnya ‘permadani’ awan dan puncak Gunung Semeru di seberang. Wow! Amazing!
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
—
Dari Watu Gede, keindahan puncak Semeru di depan dan bayang-bayang Puncak Arjuna di belakang kami
Situs terakhir yang kami temui keesokan harinya adalah Puncak Arjuna sendiri dan Pasar Setan. Puncak gunung arjuna disebut Ogal Agil karena terdapat batu besar yang bisa bergoyang-goyang. Tapi, karena sifat vandalisme kelompok tertentu, pakdhe (sebutan untuk orang tua) kami di YEPE bercerita bahwa batu besar itu didorong menggelinding ke hutan di bawah puncak sampai terpecah-pecah. Sayang sekali, ya?
Setelah mencapai puncak, kami akan turun kemudian berjalan naik lagi melintasi medan berbatu. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan puncak Gunung Arjuna, namun batu-batu di lokasi ini tersusun lebih rapi dan membentuk alur jalan yang bisa dilewati. Di bawah lokasi inilah mitos tentang Pasar Dieng atau Pasar Setan itu berada. Jika malam tiba, seoah-olah terdengar gemuruh suara oreng seperti di pasar
Puncak Gunung Arjuna Terbakar
Pasuruan - Setelah Gunung Panderman, kini kawasan puncak Gunung Arjuna terbakar sejak 3 hari lalu. Hingga saat ini api belum padam dan terus menjalar.
Sumber api diduga berasal dari balik Gunung Kembar yang masuk wilayah Mojokerto. Dari Gunung Kembar api menjalar ke Lembah Kijang dan Blok Bulak yang ada di puncak.
Dari informasi yang dihimpun, api sudah menghanguskan sedikitnya 20 ha lahan di puncak Arjuna.
"Sampai saat ini api belum bisa dipadamkan. Api sudah membakar sedikitnya 20," kata Jhody, seketaris Kelompok Tani Tahura (KTT) saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (14/10/2011) malam.
Menurut Jhody, saat ini lebih dari 40 petugas dari Tahura dan Kelompok Tani Tahura (KTT) sedang berjibaku melokalisir api.
"Lebih dari 40 petugas dikerahkan untuk melokalisir api," kata Jhody.
Di puncak yang terbakar terdapat pohon-pohon cemara besar yang usianya sudah ratusan tahun. Semak-semak setinggi 3 meter yang dalam keadaan kering membuat api semakin mudah terbakar.
Sumber api diduga berasal dari balik Gunung Kembar yang masuk wilayah Mojokerto. Dari Gunung Kembar api menjalar ke Lembah Kijang dan Blok Bulak yang ada di puncak.
Dari informasi yang dihimpun, api sudah menghanguskan sedikitnya 20 ha lahan di puncak Arjuna.
"Sampai saat ini api belum bisa dipadamkan. Api sudah membakar sedikitnya 20," kata Jhody, seketaris Kelompok Tani Tahura (KTT) saat dihubungi detiksurabaya.com, Jumat (14/10/2011) malam.
Menurut Jhody, saat ini lebih dari 40 petugas dari Tahura dan Kelompok Tani Tahura (KTT) sedang berjibaku melokalisir api.
"Lebih dari 40 petugas dikerahkan untuk melokalisir api," kata Jhody.
Di puncak yang terbakar terdapat pohon-pohon cemara besar yang usianya sudah ratusan tahun. Semak-semak setinggi 3 meter yang dalam keadaan kering membuat api semakin mudah terbakar.
Jalur Pendakian Gunung Semeru
Gunung Semeru adalah gunung suci kediaman para Dewa, merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 M dpl (puncak Mahameru). Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru.
Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.
Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.
Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.
JALUR WATU REJENG
Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.
JALUR GUNUNG AYEK-AYEK
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.
Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.
Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.
Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin, untuk umum dikenakan biaya Rp.6.500,- per orang, sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan biaya Rp.5.500,- per orang.
Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.
JALUR WATU REJENG
Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.
Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.
Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.
JALUR GUNUNG AYEK-AYEK
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.
Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Sejarah Dan Legenda Gunung Arjuna
Gunung Arjuno (atau Gunung Arjuna) terletak di Malang, Jawa Timur, bertipe Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl.Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu.
Gunung Arjun bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuna terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuna dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuna mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pada jaman dulunya bahkan samapi sekarang Masyarakat Jawa percaya bahwa kisah dalam wayang adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa. Para dewa-dewa pun diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut, namun menurut legenda, dahulu tinggi gunung ini hampir menyentuh langit. Karena perbuatan Arjuna maka gunung ini tingginya menjadi berkurang. Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha.
Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan - bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.
Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.
Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. "Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger" sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.
Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.
Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada "Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu". Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.
Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.
Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.
Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.
Gunung Arjuna dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
Gunung Arjun bersebelahan dengan Gunung Welirang. Puncak Gunung Arjuna terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Gunung Arjuna dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah barat Batu, Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.
Gunung Arjuna mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Pada jaman dulunya bahkan samapi sekarang Masyarakat Jawa percaya bahwa kisah dalam wayang adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa. Para dewa-dewa pun diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut, namun menurut legenda, dahulu tinggi gunung ini hampir menyentuh langit. Karena perbuatan Arjuna maka gunung ini tingginya menjadi berkurang. Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha.
Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan - bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.
Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.
Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. "Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger" sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.
Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.
Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada "Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu". Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.
Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.
Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.
Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.
Gunung Arjuna dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang,dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari kecamatan Singosari melalui desa Sumberawan. Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian.
Puncak Pertamaku, Gunung Arjuna
Januari 2007 adalah pertama kalinya aku mendapati puncak pertamaku di ketinggian 3.339 mdpl, puncak gunung Arjuna. Gunung Arjuna adalah gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah gunung Semeru. Perasaan senang sekaligus takut menghinggapi jiwaku kala itu.
Namun rasa takut sekejap hilang karena aku tidak sendiri. Aku mendaki bersama "dulur" atau saudara dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghinggapi jiwa maupun raga. Memang benar kata orang-orang yang telah berpengalaman, dibutuhkan fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat mendaki sebuah gunung. Kami saling menyemangati.
Memasak di Kop-kopan
Perjalanan dimulai dari sekretariat PLH SIKLUS ITS di Sukolilo Surabaya pada tanggal 01 Januari 2007. Sesampainya di Tretes, Malang, kita menitipkan sepeda motor di pos pendakian dan segera mendaki malam itu juga. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat Pos dan pipa air minum.
Di Pos tersebut kita dapat membeli makanan seperti mie dan teh hangat. Sekitar pukul 22.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita juga dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat, kopi, dan mie. Disini juga terdapat WC yang masih sangat tradisional, hanya berupa ruangan kayu bertirai dan batu berlubang.
Perjalanan melewati makadam (jalan berbatu)
Istirahat sejenak dalam perjalanan
Esok harinya kita meneruskan perjalanan menuju pondokan. Terdapat beberapa sumber air selama jalur perjalanan ini, namun untuk berjaga-jaga kita tetap berhemat. Selama perjalanan di bawah terik matahari, berkali-kali Aku merasa dehidrasi dan kehabisan tenaga. Bahkan beberapa kali langkahku jauh tertinggal dari kelompokku.
Sempat terlintas dibenakku untuk tidak melanjutkan perjalanan. Aku juga sempat membuat sumpah serapah dalam hati bahwa ini pendakian terakhirku. Untung ada seniorku yang terus menyemangati dan menunggu langkahku dengan sabar. Alhasil, sampai sekarang justru aku ketagihan dengan kegiatan pendakian.
Gubuk penambang belerang
Sore harinya kita sampai di Pondokan dan segera memasang tenda serta memasak. Udara teramat dingin, cukup membuat kami menggigil. Di Pondokan ini banyak gubuk kecil yang merupakan tempat tinggal sementara para penambang belerang.
Disini kita patut berhati-hati dalam menjaga tenda kita karena banyak pencuri yang biasanya suka mencuri bahan makanan kita. Di Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang. Di Daerah ini juga terdapat sumber air serta semacam tempat khusus untuk buang air.
Lembah Kidang
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno. Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak.
Setelah melewati Lembah Kidang, kita akan melewati daerah yang mirip dengan Lembah Kidang namun terdapat banyak bebatuan disebut Pasar Setan. Sejumlah pendaki mengaku pernah menjumpai semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah di tempat ini. Namun, konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka.
Foto bersama anggota GMC UI
Dalam perjalanan menuju puncak Arjuno, kita bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Para bule tersebut kebanyakan diantar oleh porter dan guide dengan rambutnya yang gimbal dan gondrong. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa jurusan Geografi UI yang tergabung dalam Geographical Mountaneering Club (GMC) UI. mereka sempat membagi minuman kepada kami disaat persediaan minum kami mulai menipis. Terimakasih Bang :).
3.339 mdpl
Sampai juga kami di puncak. Tidak ada tanaman apapun di puncak ini, yang ada hanya bebatuan yang cukup besar. Puncak Arjuno merupakan puncak triangulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan puncak sebenarnya. Saat berada di puncak kita harus berhati-hati karena tepi bebatuan merupakan tebing. Konon katanya pernah ada pendaki yang meninggal karena terjatuh di tepi bebatuan tersebut.
Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.
Tempat di Indonesia yang paling keren dan wajib di kunjungi untuk Adventure menurut penulis. :
Pulau Irian Jaya (Papua), alasannya.Saya ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari kehidupan masyarakat di Papua mulai dari kehidupan kota sampai suku-suku primitif di pedalaman. Bisa berkomunikasi dengan suku primitif disana tentu sangat menyenangkan, Saya ingin melihat sisi lain kehidupan dari mereka. Saya ingin mempelajari kebudayaan hingga adat istiadat yang ada disana. Saya ingin melihat secara nyata kondisi lingkungan di Papua mulai dari hutan rimbanya, pantai, lautan, hingga gunung yang menjulang. Singkat kata, Saya ingin keliling Papua untuk mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan alam Indonesiaku tercinta.
Namun rasa takut sekejap hilang karena aku tidak sendiri. Aku mendaki bersama "dulur" atau saudara dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghinggapi jiwa maupun raga. Memang benar kata orang-orang yang telah berpengalaman, dibutuhkan fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat mendaki sebuah gunung. Kami saling menyemangati.
Memasak di Kop-kopan
Perjalanan dimulai dari sekretariat PLH SIKLUS ITS di Sukolilo Surabaya pada tanggal 01 Januari 2007. Sesampainya di Tretes, Malang, kita menitipkan sepeda motor di pos pendakian dan segera mendaki malam itu juga. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat Pos dan pipa air minum.
Di Pos tersebut kita dapat membeli makanan seperti mie dan teh hangat. Sekitar pukul 22.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita juga dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat, kopi, dan mie. Disini juga terdapat WC yang masih sangat tradisional, hanya berupa ruangan kayu bertirai dan batu berlubang.
Perjalanan melewati makadam (jalan berbatu)
Istirahat sejenak dalam perjalanan
Esok harinya kita meneruskan perjalanan menuju pondokan. Terdapat beberapa sumber air selama jalur perjalanan ini, namun untuk berjaga-jaga kita tetap berhemat. Selama perjalanan di bawah terik matahari, berkali-kali Aku merasa dehidrasi dan kehabisan tenaga. Bahkan beberapa kali langkahku jauh tertinggal dari kelompokku.
Sempat terlintas dibenakku untuk tidak melanjutkan perjalanan. Aku juga sempat membuat sumpah serapah dalam hati bahwa ini pendakian terakhirku. Untung ada seniorku yang terus menyemangati dan menunggu langkahku dengan sabar. Alhasil, sampai sekarang justru aku ketagihan dengan kegiatan pendakian.
Gubuk penambang belerang
Sore harinya kita sampai di Pondokan dan segera memasang tenda serta memasak. Udara teramat dingin, cukup membuat kami menggigil. Di Pondokan ini banyak gubuk kecil yang merupakan tempat tinggal sementara para penambang belerang.
Disini kita patut berhati-hati dalam menjaga tenda kita karena banyak pencuri yang biasanya suka mencuri bahan makanan kita. Di Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang. Di Daerah ini juga terdapat sumber air serta semacam tempat khusus untuk buang air.
Lembah Kidang
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno. Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak.
Setelah melewati Lembah Kidang, kita akan melewati daerah yang mirip dengan Lembah Kidang namun terdapat banyak bebatuan disebut Pasar Setan. Sejumlah pendaki mengaku pernah menjumpai semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah di tempat ini. Namun, konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar-benar terjadi atau cuma mitos belaka.
Foto bersama anggota GMC UI
Dalam perjalanan menuju puncak Arjuno, kita bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Para bule tersebut kebanyakan diantar oleh porter dan guide dengan rambutnya yang gimbal dan gondrong. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa jurusan Geografi UI yang tergabung dalam Geographical Mountaneering Club (GMC) UI. mereka sempat membagi minuman kepada kami disaat persediaan minum kami mulai menipis. Terimakasih Bang :).
3.339 mdpl
Sampai juga kami di puncak. Tidak ada tanaman apapun di puncak ini, yang ada hanya bebatuan yang cukup besar. Puncak Arjuno merupakan puncak triangulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan puncak sebenarnya. Saat berada di puncak kita harus berhati-hati karena tepi bebatuan merupakan tebing. Konon katanya pernah ada pendaki yang meninggal karena terjatuh di tepi bebatuan tersebut.
Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.
Tempat di Indonesia yang paling keren dan wajib di kunjungi untuk Adventure menurut penulis. :
Pulau Irian Jaya (Papua), alasannya.Saya ingin mengenal lebih dekat dan mempelajari kehidupan masyarakat di Papua mulai dari kehidupan kota sampai suku-suku primitif di pedalaman. Bisa berkomunikasi dengan suku primitif disana tentu sangat menyenangkan, Saya ingin melihat sisi lain kehidupan dari mereka. Saya ingin mempelajari kebudayaan hingga adat istiadat yang ada disana. Saya ingin melihat secara nyata kondisi lingkungan di Papua mulai dari hutan rimbanya, pantai, lautan, hingga gunung yang menjulang. Singkat kata, Saya ingin keliling Papua untuk mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan alam Indonesiaku tercinta.
Merajut Angan Gunung Arjuna
Janet Cochrane, Dosen Ecotourism dari Leeds Metropolitan University UK, sempat terhenyak saat berkunjung ke Kaliandra, yang berada di Dusun Gamoh, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dia terpesona dengan keindahan panorama alam di Kawasan Gunung Arjuna. Menurutnya keindahan itu berpadu eksotis dengan potensi alam dan keragaman budaya masyarakatnya.
Di beberapa kawasan lereng dapat ditemui keberadaan peninggalan bersejarah dan sekitar 52 situs purbakala terserak di lereng Arjuna, pemandangan ini dapat kita temui sepanjang rute pendakian. Misal saja, saat kita menempuh rute pendakian dari wilayah timur yang dapat dilalui di Dusun Tambak Watu, Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dari situ kita akan melangkah naik hingga sampai di Goa Onto Boego. Sebuah tempat yang juga dipercaya oleh warga setempat memiliki tuah atau kekuatan supranatural, dapat tembus hingga ke Laut Selatan.
Kemudian melanjutkan perjalanan, kendati rasa lelah mulai menyikap, tak perlu khawatir karena perasaan ini dapat tergantikan dengan pemandangan alam yang begitu memukau didukung hawa segar menyelinap ke tubuh.
Terus naik, sampailah di Komplek Tampuono. Disinilah Anda dapat sejenak melepas lelah, karena terdapat pendopo dan beberapa gubuk warga yang menjual aneka makanan serta minuman. Selain itu di Tampuono inilah juga kerap dibuat para lelaku yang singgah di beberapa petilasan dan makam sesepuh desa. Seperti Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogo Gini, Sendang Dewi Kunti sebagai tempat air, serta beberapa titik sakral lainnya.
Tak berhenti di Onto Boego dan Tampuono saja, peninggalan sejarah yang ada di Gunung Arjuna. Namun, masih banyak lainnya saat kita melanjutkan langkah terus naik menerabas alam menuju puncak gunung. Yakni setelah itu, kita temui keberadaan petilasan, makam, dan puluhan situs berserak di Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Bahkan jika kita mau menjelajahi seluruh kawasan yang ada di sana, dapat menemui banyak sisa peninggalan budaya, goa dan air terjun yang masih alami.
Bukti lain jika potensi budaya di sini begitu besar, dapat dilihat pula dari buah karya budaya yang terlahir dari masyarakatnya. Penduduk di Kaki Arjuna, memiliki aneka kesenian seperti Tari Ujung, Ludruk, Sendratari, Wayang, Karawitan, Ancakan desa, serta jamasan sebagai momen tahunan yang menjadi wujud untaian syukur warga pada leluhur dan Sang Kuasa. Beragam budaya yang bersanding erat dengan keramahan warga desa penunjang kawasan lereng Arjuna, semakin melengkapi potensi kawasan ini sebagai tempat tujuan wisata tahan lama.
Dengan makin berkembangnya keragaman budaya yang ada di kawasan Arjuna, seperti halnya yang telah digiatkan oleh masyarakat di Desa Tambaksari. Warga setempat berharap banyak pihak yang turut serta membantu pelestarian budaya dan potensi alam yang ada. Seperti yang diutarakan Rr. Justina Jetty M Apriyatni, salah seorang penggiat budaya di Desa Tambaksari, berharap agar pemerintah, khususnya dinas pariwisata dan kebudayaan terkait turut serta mengembangkan segala potensi di sini, bentuknya bisa berupa dukungan, promosi, atau bentuk lainnya. “Sangat kami sayangkan, jika pemerintah kurang membantu, karena kami akan terus bergiat melestarikan alam dan budaya di sini,” imbuh pemilik galeri kesenian La Bagoes ini.
Kebun Apel
Selain berjuta pesona yang terdapat dari akses pendakian Gunung Arjuna dari sisi bagian timur, atau dari Kaliandra di Desa Dayurejo, Dusun Tambak Watu (Desa Tambaksari), dan sekitarnya. Pesona alam yang dapat kita nikmati, yakni dari sisi bagian selatan kawasan Gunung Arjuna. Tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Desa Tulungrejo merupakan desa yang sangat subur dengan corak masyarakatnya yang majemuk, dan sebagian besar bermata pencaharian tani sayur mayur dan buah apel. Selain usaha dari tani juga usaha sapi perah untuk produksi susu, gotong royong merupakan sifat masyarakatnya. Ditunjang oleh udara yang dingin dan panorama alam yang indah, terletak di dataran tinggi.
Potensi di desa ini yang paling menonjol adalah perkebunan apel. Kebanyakan petani di Tulungrejo menggelar rekreasi petik apel dengan swadaya dan kreatifitas sendiri. Dan, di desa ini telah terbentuk beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Salah satunya adalah Kelompok Tani Makmur Abadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji. Mulai dari promosi, memandu wisatawan, hingga menyediakan transportasi, mereka kelola secara mandiri.
Menurut penjelasan Sayekti Heri Cahyono, selaku unit wisata petik apel Makmur Abadi, perkebunan apel di Desa Tulungrejo berada di ketinggian 1.500 hingga 1.600 meter dari permukaan laut (mdpl), memiliki lahan seluas 80 hektar. “Lahan seluas itu yang dijadikan tempat wisata petik apel berada di Dusun Gondang, Gerdu, dan Juru,” ujar pria berusia 34 tahun itu.
Apel di perkebunan yang ada di Desa Tulungrejo memiliki empat varietas.
Yakni Manalagi, Romebeauty, Anna dan Wanglin. Semuanya memiliki ciri khusus. Apel romebeauty berwarna hijau dengan semburat merah, rasanya memang lebih masam dibandingkan dengan apel jenis yang lainnya. Apel manalagi berwarna hijau kekuningan dan rasanya manis. Apel Anna berwarna kuning dengan semburat merah, rasanya segar karena kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan Wanglin kulitnya rata berwarna merah.
Karena keindahan dan konsep wisata yang ditawarkan tak salah bila beberapa tahun setelah dibuka, dengan serba keterbatasan perkebunan apel di Tulungrejo mampu menarik perhatian wisatawan datang ke sini.
“Karena itu pula, Kota Batu dikenal dengan sebutan Kota Apel. Wisatawan dapat menikmati tawaran konsep wisata petik apel, lengkap dengan hawa segar karena daerah kita berada di tiga pegunungan. Yakni Gunung Panderman, Gunung Banyak dan Gunung Arjuno,” jelas Wiwid Hariyanto, salah seorang pemandu dari Pusat Informasi Pariwisata Kota Batu.
Apel hasil kebun juga untuk dipasarkan ke daerah-daerah. Pemasarannya hanya sebatas pangsa pasar lokal, baik di Jawa maupun Bali. Selain dijual dalam bentuk buah juga diolah kembali dalam bentuk berbagai rupa. Seperti minuman sari apel, keripik, sambal, dan masih banyak lainnya.
Responsible Tourism
Gunung Arjuna sendiri memiliki ketinggian 3.339 mdpl dengan luas hutan 78 ribu hektar. Terdiri 25 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, dan 53 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Perhutani. Melihat hasil konservasi dan peninggalan situs purbakala yang ada, Kaliandra bersama masyarakat setempat bergiat mengembangkannya sebagai tempat tujuan wisata yang bertanggung jawab (Responsible Tourism).
“Harapannya dari gagasan itu, dapat dikembalikan menjadi basis tumpuan perekonomian masyarakat. Karenanya masyarakat yang terlibat dituntut pro aktif dalam menyambut setiap tamu yang datang. Mulai dari penyediaan home stay, suguhan budaya, hingga pendampingan dalam pendakian,” jelas Sapto Siswoyo, Asisten Pengembangan Masyarakat di Kaliandra.
Untuk mewujudkan mimpi itu, maka terbentuklah MATA (Mount Arjuna Tourism Area). Dalam waktu dekat MATA akan hadir, dengan beberapa tawaran tentang info produk wisata dan kegiatan konservasi yang dilakukan oleh warga lokal, untuk mendorong pengembangan wisata tahan lama di kawasan Arjuna. Bentuknya berupa tracking budaya, hiking puncak Arjuna, paket bersepeda, pengamatan satwa, kegiatan wisata bersama warga sekitar, dan masih banyak lainnya yang ditawarkan.
Dalam perjalanannya MATA berharap adanya beberapa pihak yang terketuk untuk membantu keberlangsungan gagasan ini. Pada tahap awal, Kaliandra menggandeng IUCN (International Union for Conservation of Nature) The Netherlands untuk mengembangkan wisata yang bertanggung jawab di kawasan Arjuna. Dukungan dari pemerintah terkait baik dari kabupaten, kota, maupun propinsi juga masih sangat diharapkan. Misalnya, dengan menerbitkan peraturan daerah tentang pariwisata yang berpihak pada masyarakat setempat. Serta pemerintah diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan baik, karena kawasan Arjuna secara administratif, wilayahnya juga melintasi tiga kabupaten (Pasuruan, Malang, Mojokerto) dan satu kota administratif (Batu).
“Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memfasilitasi pembentukan lembaga pengelola kawasan Destination Management Organisation (DMO),” imbuh pria yang akrab disapa Siswoyo ini. DMO ini terdiri dari empat stake holder, meliputi masyarakat, pemerintah, pihak swasta, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Yang nantinya lembaga ini dapat secara terpadu untuk memastikan kontribusi dari hasil wisata bagi konservasi kawasan Arjuna, serta peningkatan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat lokal.
Di beberapa kawasan lereng dapat ditemui keberadaan peninggalan bersejarah dan sekitar 52 situs purbakala terserak di lereng Arjuna, pemandangan ini dapat kita temui sepanjang rute pendakian. Misal saja, saat kita menempuh rute pendakian dari wilayah timur yang dapat dilalui di Dusun Tambak Watu, Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Dari situ kita akan melangkah naik hingga sampai di Goa Onto Boego. Sebuah tempat yang juga dipercaya oleh warga setempat memiliki tuah atau kekuatan supranatural, dapat tembus hingga ke Laut Selatan.
Kemudian melanjutkan perjalanan, kendati rasa lelah mulai menyikap, tak perlu khawatir karena perasaan ini dapat tergantikan dengan pemandangan alam yang begitu memukau didukung hawa segar menyelinap ke tubuh.
Terus naik, sampailah di Komplek Tampuono. Disinilah Anda dapat sejenak melepas lelah, karena terdapat pendopo dan beberapa gubuk warga yang menjual aneka makanan serta minuman. Selain itu di Tampuono inilah juga kerap dibuat para lelaku yang singgah di beberapa petilasan dan makam sesepuh desa. Seperti Makam Eyang Abiyoso, Eyang Sekutrem, Eyang Madrem, Goa Nogo Gini, Sendang Dewi Kunti sebagai tempat air, serta beberapa titik sakral lainnya.
Tak berhenti di Onto Boego dan Tampuono saja, peninggalan sejarah yang ada di Gunung Arjuna. Namun, masih banyak lainnya saat kita melanjutkan langkah terus naik menerabas alam menuju puncak gunung. Yakni setelah itu, kita temui keberadaan petilasan, makam, dan puluhan situs berserak di Komplek Eyang Semar, Mahkutoromo, Sepilar, dan Komplek Candi Jawadipa. Bahkan jika kita mau menjelajahi seluruh kawasan yang ada di sana, dapat menemui banyak sisa peninggalan budaya, goa dan air terjun yang masih alami.
Bukti lain jika potensi budaya di sini begitu besar, dapat dilihat pula dari buah karya budaya yang terlahir dari masyarakatnya. Penduduk di Kaki Arjuna, memiliki aneka kesenian seperti Tari Ujung, Ludruk, Sendratari, Wayang, Karawitan, Ancakan desa, serta jamasan sebagai momen tahunan yang menjadi wujud untaian syukur warga pada leluhur dan Sang Kuasa. Beragam budaya yang bersanding erat dengan keramahan warga desa penunjang kawasan lereng Arjuna, semakin melengkapi potensi kawasan ini sebagai tempat tujuan wisata tahan lama.
Dengan makin berkembangnya keragaman budaya yang ada di kawasan Arjuna, seperti halnya yang telah digiatkan oleh masyarakat di Desa Tambaksari. Warga setempat berharap banyak pihak yang turut serta membantu pelestarian budaya dan potensi alam yang ada. Seperti yang diutarakan Rr. Justina Jetty M Apriyatni, salah seorang penggiat budaya di Desa Tambaksari, berharap agar pemerintah, khususnya dinas pariwisata dan kebudayaan terkait turut serta mengembangkan segala potensi di sini, bentuknya bisa berupa dukungan, promosi, atau bentuk lainnya. “Sangat kami sayangkan, jika pemerintah kurang membantu, karena kami akan terus bergiat melestarikan alam dan budaya di sini,” imbuh pemilik galeri kesenian La Bagoes ini.
Kebun Apel
Selain berjuta pesona yang terdapat dari akses pendakian Gunung Arjuna dari sisi bagian timur, atau dari Kaliandra di Desa Dayurejo, Dusun Tambak Watu (Desa Tambaksari), dan sekitarnya. Pesona alam yang dapat kita nikmati, yakni dari sisi bagian selatan kawasan Gunung Arjuna. Tepatnya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Desa Tulungrejo merupakan desa yang sangat subur dengan corak masyarakatnya yang majemuk, dan sebagian besar bermata pencaharian tani sayur mayur dan buah apel. Selain usaha dari tani juga usaha sapi perah untuk produksi susu, gotong royong merupakan sifat masyarakatnya. Ditunjang oleh udara yang dingin dan panorama alam yang indah, terletak di dataran tinggi.
Potensi di desa ini yang paling menonjol adalah perkebunan apel. Kebanyakan petani di Tulungrejo menggelar rekreasi petik apel dengan swadaya dan kreatifitas sendiri. Dan, di desa ini telah terbentuk beberapa Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Salah satunya adalah Kelompok Tani Makmur Abadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji. Mulai dari promosi, memandu wisatawan, hingga menyediakan transportasi, mereka kelola secara mandiri.
Menurut penjelasan Sayekti Heri Cahyono, selaku unit wisata petik apel Makmur Abadi, perkebunan apel di Desa Tulungrejo berada di ketinggian 1.500 hingga 1.600 meter dari permukaan laut (mdpl), memiliki lahan seluas 80 hektar. “Lahan seluas itu yang dijadikan tempat wisata petik apel berada di Dusun Gondang, Gerdu, dan Juru,” ujar pria berusia 34 tahun itu.
Apel di perkebunan yang ada di Desa Tulungrejo memiliki empat varietas.
Yakni Manalagi, Romebeauty, Anna dan Wanglin. Semuanya memiliki ciri khusus. Apel romebeauty berwarna hijau dengan semburat merah, rasanya memang lebih masam dibandingkan dengan apel jenis yang lainnya. Apel manalagi berwarna hijau kekuningan dan rasanya manis. Apel Anna berwarna kuning dengan semburat merah, rasanya segar karena kandungan airnya lebih banyak. Sedangkan Wanglin kulitnya rata berwarna merah.
Karena keindahan dan konsep wisata yang ditawarkan tak salah bila beberapa tahun setelah dibuka, dengan serba keterbatasan perkebunan apel di Tulungrejo mampu menarik perhatian wisatawan datang ke sini.
“Karena itu pula, Kota Batu dikenal dengan sebutan Kota Apel. Wisatawan dapat menikmati tawaran konsep wisata petik apel, lengkap dengan hawa segar karena daerah kita berada di tiga pegunungan. Yakni Gunung Panderman, Gunung Banyak dan Gunung Arjuno,” jelas Wiwid Hariyanto, salah seorang pemandu dari Pusat Informasi Pariwisata Kota Batu.
Apel hasil kebun juga untuk dipasarkan ke daerah-daerah. Pemasarannya hanya sebatas pangsa pasar lokal, baik di Jawa maupun Bali. Selain dijual dalam bentuk buah juga diolah kembali dalam bentuk berbagai rupa. Seperti minuman sari apel, keripik, sambal, dan masih banyak lainnya.
Responsible Tourism
Gunung Arjuna sendiri memiliki ketinggian 3.339 mdpl dengan luas hutan 78 ribu hektar. Terdiri 25 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo, dan 53 ribu hektar luas hutan masuk kawasan Perhutani. Melihat hasil konservasi dan peninggalan situs purbakala yang ada, Kaliandra bersama masyarakat setempat bergiat mengembangkannya sebagai tempat tujuan wisata yang bertanggung jawab (Responsible Tourism).
“Harapannya dari gagasan itu, dapat dikembalikan menjadi basis tumpuan perekonomian masyarakat. Karenanya masyarakat yang terlibat dituntut pro aktif dalam menyambut setiap tamu yang datang. Mulai dari penyediaan home stay, suguhan budaya, hingga pendampingan dalam pendakian,” jelas Sapto Siswoyo, Asisten Pengembangan Masyarakat di Kaliandra.
Untuk mewujudkan mimpi itu, maka terbentuklah MATA (Mount Arjuna Tourism Area). Dalam waktu dekat MATA akan hadir, dengan beberapa tawaran tentang info produk wisata dan kegiatan konservasi yang dilakukan oleh warga lokal, untuk mendorong pengembangan wisata tahan lama di kawasan Arjuna. Bentuknya berupa tracking budaya, hiking puncak Arjuna, paket bersepeda, pengamatan satwa, kegiatan wisata bersama warga sekitar, dan masih banyak lainnya yang ditawarkan.
Dalam perjalanannya MATA berharap adanya beberapa pihak yang terketuk untuk membantu keberlangsungan gagasan ini. Pada tahap awal, Kaliandra menggandeng IUCN (International Union for Conservation of Nature) The Netherlands untuk mengembangkan wisata yang bertanggung jawab di kawasan Arjuna. Dukungan dari pemerintah terkait baik dari kabupaten, kota, maupun propinsi juga masih sangat diharapkan. Misalnya, dengan menerbitkan peraturan daerah tentang pariwisata yang berpihak pada masyarakat setempat. Serta pemerintah diharapkan dapat menjalin komunikasi dengan baik, karena kawasan Arjuna secara administratif, wilayahnya juga melintasi tiga kabupaten (Pasuruan, Malang, Mojokerto) dan satu kota administratif (Batu).
“Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat memfasilitasi pembentukan lembaga pengelola kawasan Destination Management Organisation (DMO),” imbuh pria yang akrab disapa Siswoyo ini. DMO ini terdiri dari empat stake holder, meliputi masyarakat, pemerintah, pihak swasta, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Yang nantinya lembaga ini dapat secara terpadu untuk memastikan kontribusi dari hasil wisata bagi konservasi kawasan Arjuna, serta peningkatan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat lokal.
